EkonomiNasional

Peringatan Hari Nelayan Nasional 6 April: Masih Bergelut dengan Kemiskinan dan Ketidakberdayaan

145
×

Peringatan Hari Nelayan Nasional 6 April: Masih Bergelut dengan Kemiskinan dan Ketidakberdayaan

Share this article
Nelayan menebar jalan dari atas kapal kecil
Nelayan menebar jalan dari atas kapal kecil. (Gambar oleh <a href="https://pixabay.com/id/users/quangpraha-7201644/?utm_source=link-attribution&utm_medium=referral&utm_campaign=image&utm_content=3062034">Quang Nguyen vinh</a> dari <a href="https://pixabay.com/id//?utm_source=link-attribution&utm_medium=referral&utm_campaign=image&utm_content=3062034">Pixabay</a>)

G24NEWS.TV, JAKARTANelayan di Indonesia mempunyai peringatan tersendiri, yaitu pada 6 April yang diperingati sebagai Hari Nelayan Nasional, apakah nasib mereka sudah lebih baik di negeri ini? 

Hari Nelayan adalah wujud penghargaan atas peran penting mereka dalam perekonomian dan keamanan pangan negara. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2020, kontribusi sektor perikanan dan kelautan pada perekonomian nasional  mencapai 3,34 persen. 

Hari Nelayan Nasional hadir karena kekhawatiran akan kesejahteraan para nelayan, Suwarman Partosuwiryo dalam bukunya menceritakan bahwa secara nasional, kondisi para nelayan Indonesia belum sejahtera.  Padahal sebagai garda terdepan dalam pengelolaan ikan, para nelayan sudah seharusnya mendapat kesejahteraan. 

Sebagai wilayah negara maritim dengan ribuan pulau, laut Indonesia memiliki kekayaan dan potensi sumber daya kelautan yang sangat besar dan melimpah. Para nelayan sangat memainkan peran penting di laut Indonesia dalam menjaga keberlanjutan dan keseimbangan ekosistem laut, serta memasok bahan makanan bagi masyarakat Indonesia.

Masalah yang Dihadapi Nelayan Saat Ini 

Namun, para nelayan di Indonesia masih menghadapi banyak tantangan dalam menjalankan profesinya. Mereka beberapa kali dihadapi masalah antara lain sistem penggunaan teknologi yang kurang modern, minimnya jalan menuju ke pasar yang baik, dan tentunya masalah perizinan yang cukup rumit dan kompleks.

Pemerintah sebenarnya sudah mengetahui apa saja masalah-masalah yang dihadapi nelayan. 

Berikut ini masalah-masalah yang dihadapi para nelayan: 

  • Aset,  nelayan masih sulit mendapatkan bantuan kapal, hingga tingginya biaya bahan bakar untuk melaut. Solar ini bukan hanya mahal, tapi juga langka karena masih saja ditemukan adanya penyelewengan penggunaan solar bersubsidi untuk nelayan. 
  • Keuangan, nelayan masih kurang dalam akses permodalan untuk biaya operasional melaut (contohnya perlengkapan laut). Nelayan juga masih kurang pengetahuan mengenai pemanfaatan pendapatan untuk pengembangan usaha.
  • Penangkapan ikan, nelayan Indonesia masih minim informasi dan teknologi yang menyediakan informasi cuaca, gelombang perairan, arah angin masih terbatas. Informasi lokasi persebaran ikan masih diperoleh secara konvensional. Ada juga kesulitan tentang jenis ikan yang diminati pasar. 
  • Penyimpangan dan pengelolaan, nelayan kita juga menghadapi informasi lokasi dan kapasitas penyimpanan pendingin masih terbatas. Fasilitas penyimpanan pendingin di pelabuhan masih kurang, padahal mereka membutuhkan agar hasil tangkapan mereka tetap segar dan berkualitas. 
Baca Juga  Empat Parpol Pendukung Prabowo Subianto pada Pilpres 2024, Wujud Koalisi Jalan Tengah di Indonesia 

Pada Hari Nelayan Nasional ini, kita harus mengakui pentingnya profesi sebagai nelayan dan bekerja untuk memperbaiki kondisi mereka. Pemerintah pusat dan elemen masyarakat harus memberikan dukungan dalam bentuk pengembangan teknologi, akses menuju pasar yang harus lebih baik, serta pemenuhan hak-hak terhadap nelayan sebagai warga negara.

Selain itu, Hari Nelayan Nasional juga bisa dijadikan momen untuk mengajak masyarakat mengingat tentang pentingnya menjaga laut dan melestarikan ekosistemnya. Kita perlu bekerja sama untuk mengurangi pencemaran laut dan melindungi sumber daya kelautan agar dapat dinikmati oleh generasi penerus yang akan datang.

Infografis problematika nelayan
Infografis problematika nelayan. (Sumber Indonesiabaik)

Partai Golkar: Nasib Nelayan Harus Diperhatikan

Wakil Ketua Komisi IV dari Fraksi Partai Golkar Dedi Mulyadi meminta pemerintah dan pihak-pihak terkait memperhatikan nasib petani. 

Baca Juga  Mau Healing di Alam? Indonesia Punya 10 Destinasi Terbaik Ini Loh!

Dia mengakui dari tahun ke tahun kehidupan nelayan tidak mengalami peningkatan kehidupan yang memadai di hampir seluruh pantai. Jika kondisi ini berlanjut, dia khawatir pada suatu saat laut akan dikuasai oleh kapal asing lantaran nasib nelayan di Indonesia semakin terpuruk. 

Salah satu kesulitan yang dihadapi nelayan adalah saat mengalami paceklik mereka tak bisa menyimpan apa-apa sebagai bekal hidup. 

Pada masa paceklik ikan, para nelayan didatangi oleh para rentenir yang menawarkan pinjaman dengan bunga besar. Baru kemudian setelah melaut mereka membayar. Tapi ternyata hasil melaut tidak bisa menutup seluruh utang, sehingga utangnya menumpuk. 

Persoalan lain yang dihadapi para nelayan menurut Dedi adalah pemukiman dengan sanitasi yang buruk, tidak ada toilet dan ditempati banyak kepala keluarga. 

Keterpurukan nelayan semakin bertambah karena daya jelajah mereka mencari ikan semakin berkurang akibat naiknya harga BBM dan keterbatasan kapal atau perahu yang dimiliki, sehingga mereka hanya mencari ikan kecil di sekitar pantai.

 “Kalau kita tidak melakukan perubahan manajemen penangan kelautan, suatu saat nanti yang melakukan penangkapan ikan hanya orang kaya, orang bermodal. Atau bisa jadi suatu saat nanti yang berbisnis ikan dan melakukan pengelolaan di Indonesia adalah kapal asing berbendera Indonesia, dan itu kan terjadi,” ujar Dedi.

 

 

banner 325x300