Karya dan GagasanNasional

[ESAI] I-cy (Implied Literacy), Solusi Transformasi Partai Politik Penunjang Kesadaran Kaum Milenial di Pemilu 2024

352
×

[ESAI] I-cy (Implied Literacy), Solusi Transformasi Partai Politik Penunjang Kesadaran Kaum Milenial di Pemilu 2024

Share this article
Ilustrasi kotak suara. Foto: Ist
Setahun Jelang Pemilu 2024 semua pihak diingatkan bahwa Pemilu adalah momentum untuk perkuat integrasi bangsa. (Foto file - Anadolu Agency)

Oleh: Nazilatul Hidayah, Mahasiswa Universitas Diponegoro, Semarang, Juara Favorit Essay Competition Golkar Institute Februari 2023

“POLITIK itu mengasyikan, politik itu sangat bermanfaat, dan politik sangat menentukan arah kemajuan bagi bangsa kita.” -Ace Hasan Syadzily-  

Tulisan di atas merupakan kalimat Ace Hasan Syadzily, Ketua Dewan Pengurus Golkar Institute, yang disampaikan pada online course dengan tajuk “Perspektif dalam Politik dan Tipologi Politik” beberapa waktu lalu. Melalui kalimat tersebut menunjukkan bahwa kita harus lebih peka dan melek politik

Politik merupakan salah satu bagian penting dalam bernegara yang sangat menentukan arah kemajuan bangsa Indonesia sehingga harus diperhatikan. Termasuk untuk kaum milenial. Mereka merupakan kelompok masyarakat yang berdasarkan Pasal 1 UU No 40 tahun 2009 tentang Kepemudaan didefinisikan sebagai warga negara Indonesia di usia 16 sampai 30 tahun (States et al., 2009).

Era generasi milenial merupakan kelanjutan dari kekuasaan orde baru. Akumulasi tekanan sistem otoriter akhirnya memunculkan perlawanan mulai dari protes perorangan sampai berkelompok. Sebagai contoh gerakan massal mahasiswa sebagai bentuk dampak peristiwa penembakan mahasiswa Universitas Trisakti tahun 1998 (Shahreza, 2017). Selain itu, pada 2019 juga dikenal sebagai tahun politik dengan beragam isu. Mulai dari peristiwa meninggalnya ratusan petugas KPPS, kerusuhan di Papua, hingga demo besar-besaran mahasiswa terkait revisi Undang-Undang Hukum Pidana dan Undang-Undang tentang Komisi Pemberantasan Korupsi. Peristiwa ini membuat milenial hanya membangun persepsi buruk terhadap politik dan berpotensi membuat kaum milenial kurang peduli dengan isu politik (Wasilah et al., 2021).

Itu sebabnya, perlu dilakukan tindakan yang membuat kaum milenial tidak apatis terhadap dunia politik yang salah satunya bisa dijembatani melalui partai politik. Di sisi lain, gerakan-gerakan yang dilakukan oleh kaum milenial menunjukkan bahwa mereka bukan generasi yang tidak peka terhadap sosial, bukan generasi yang manja, dan melek politik. 

Hanya saja, bagi milenial yang tidak mau mengkaji lebih dalam terkait peranan politik termasuk partai politik membuat mereka selalu memberikan stigma negatif terhadap dunia politik itu sendiri. Padahal, beberapa kepentingan masyarakat seperti penentuan kurikulum pendidikan, penentuan harga bahan pokok, dan lainnya, semua memerlukan campur tangan dari partai politik sebagaimana yang disampaikan oleh Ace Hasan Syadzily, Ketua Dewan Pengurus Golkar Institute.

Itu sebabnya diperlukan adanya tindakan atau perlakuan yang bisa menggerakkan ketertarikan generasi milenial terhadap dunia politik termasuk partai politik atau transformasi partai politik. Cara yang bisa dilakukan adalah melalui inovasi tindakan I-cy (Implied Literacy). 

Tindakan ini memungkinkan penyampaian pencerdasan seputar politik termasuk partai politik secara tersirat. Namun, penerimaan yang didapatkan oleh generasi milenial justru lebih besar dibandingkan dengan penyampaian pesan dan pencerdasan secara langsung melalui sebuah pertemuan, kelas, maupun modul.

Tindakan yang bisa dilakukan melalui solusi I-cy mengusung konsep PIKep Pendekatan horizontal vertikal, Influence, dan kegiatan Kepemudaan.

Baca Juga  [IN-DEPTH]: Menelisik “Gender Gap” dalam Humor, Masih Kentalkah Budaya Patriarki?
Konsep Implied Literacy
Konsep Implied Literacy

Pendekatan Horizontal dan Vertikal

Sebagai contoh, komunikasi antar kaum sebaya lebih bisa ditangkap melalui obrolan hangat tanpa adanya sekat dan canggung. Berbeda ketika komunikasi yang dilakukan antarkaum muda dengan yang lebih tua. 

Begitu juga dalam hal penyampaian kehidupan berpartai politik. Pesan atau obrolan yang disampaikan oleh tim atau kader muda akan bisa lebih ditangkap dengan penyampaian yang kekinian, dan melalui berbagai macam media perantara.Inilah yang disebut sebagai pendekatan secara horizontal untuk bisa mengajak generasi milenial melek partai politik.

Partai politik tidak harus mengedepankan para petinggi-petinggi atau tokoh ternama yang sudah lama bergelut di dunia politik. Penyampaian atau diskusi ringan dan obrolan yang mengalir bisa disampaikan oleh para kader dari golongan milenial dengan tujuan untuk menciptakan pendekatan yang lebih mengena. 

Sebagai contoh diskusi atau obrolan mengenai Strategi Kampanye di Media Sosial yang disampaikan oleh Noudhy Valdyono, Manajer Kebijakan Publik Meta Indonesia melalui online course singkat di Golkar Institute. Tidak hanya menyaksikan penyampaian kursus saja, melainkan terdapat titik yang menjelaskan tentang ketertarikan generasi milenial dalam hal media sosial yang bisa dikaitkan dengan healthy world of politics.

Riset terkait rata-rata generasi milenial menatap perangkat mobile sekitar tiga jam sehari yang melambung menjadi 20% setelah 4 tahun kemudian, menunjukkan bahwa pendekatan sebagaimana yang disampaikan bisa diterima dengan baik (Kominfo, 2022). Tinggal bagaimana pengemasan yang dilakukan bisa mengikuti perkembangan zaman dan tetap berada di lajur konsumsi publik yang positif.

Selain itu, dalam berkehidupan juga membutuhkan yang namanya communication control yang layaknya terjadi antara generasi milenial dengan kaum yang lebih dewasa. Generasi milenial yang juga dikenal sebagai generasi di umur masih labil (Safitri & Dewi, 2021), membutuhkan adanya pengingat-pengingat yang bisa berasal dari orang-orang disekitarnya. 

Kaum dewasa bisa yang melek partai politik bisa memulainya dari lingkungan yang sempit atau lingkungan sekitar terlebih dahulu. Penyampaian yang dilakukan tidak monoton ada pada nasehat panjang atau pencerdasan secara langsung.

Melainkan bisa melalui tindakan dan contoh yang baik untuk bisa ditiru generasi milenial di sekitarnya. Bisa dimulai dari menunjukkan kampanye sehat, menjaga kerukunan antar petinggi partai politik, menerima kritik dan saran, dan tindakan-tindakan positif lainnya yang membuka pemikiran generasi milenial akan indahnya dunia politik yang selama ini masih tertutup dengan stigma negatif. Pendekatan inilah yang dijadikan sebagai solusi dengan sebutan pendekatan vertikal pada I-ce. 

Analisis PESTLE
Analisis PESTLE

Influence

Menciptakan pengaruh dari individu atau kelompok yang memiliki peran positif di kalangan masyarakat termasuk generasi milenial bisa dijadikan sebagai strategi berikutnya oleh partai politik dalam menggandeng kaum muda supaya melek politik itu sendiri. Tidak hanya dimanfaatkan untuk menguatkan elektabilitas sebuah golongan atau partai politik saja. Melalui tindakan influence, bisa membuat generasi milenial mau terlibat terlebih dahulu untuk turut memberikan kontribusi dengan cara terjun ke partai politik bersama segudang ide gemilangnya.

Baca Juga  Revitalisasi KUA Akan Permudah Akses Layanan Publik Bagi Penganut Semua Agama

Pemegang partai politik bisa mengambil tindakan untuk menggencarkan peranan influencer dalam menggali kesadaran generasi milenial terkait pentingnya partai politik dan dunia politik itu sendiri. Penyampaian tersirat melalui konten kreatif kekinian, bisa menjadi kekuatan dan daya tarik untuk bisa diambil pesannya dengan lebih mudah.

Dalam jangka pendek, pengaruh positif yang disampaikan atau disebarluaskan bisa memunculkan tindakan politik sederhana secara implied dari generasi milenial. Sebagai contoh mulai tertarik sebagai partisipan politik melalui media sosial atau internet, melakukan tindakan yang dimulai dari individual dan ad-hoc atau spontan. Pengaruh globalisasi dan sifat individualisme menjadi faktor utama kenapa generasi milenial bisa menyerap penyampaian yang disampaikan melalui media tertentu dengan kondisi yang masih sibuk dengan pikirannya sendiri (Kompas.com, 2022).

Lambat laun, semakin banyak partisipasi politik yang bisa dilakukan oleh generasi milenial ketika sudah tersadar akan pentingnya peran masing-masing di dunia politik. Mulai dari melakukan pengiriman pesan terkait kepentingan bersama kepada pejabat pemerintahan, menjadi kader atau anggota partai politik, ikut serta dalam aksi protes maupun demonstrasi yang sehat, tergabung di dalam organisasi kemasyarakatan, mencalonkan diri untuk bergabung sebagai anggota penerima jabatan publik, memberikan sumbangan kepada politisi atau partai, sampai terjun di dalam kegiatan penggalangan dana sebagai relawan.

Kegiatan Kepemudaan

Istilah Contemporary Political Parties atau partai politik masa kini bisa bertransformasi dan berbaur kepada kaum milenial melalui kegiatan dari kaum milenial itu sendiri. Yakni bisa berupa kegiatan kepemudaan seperti turnamen, e-sport, pengabdian dalam bentuk youth summit, dan lain sebagainya.

Muncul sebagai teman, bukan sebab pencitraan”.

Kalimat itulah yang patut ditekankan oleh setiap partai politik ketika hendak bertransformasi dan merangkul generasi milenial supaya mau melek politik dan bersama-sama mensukseskan pemilihan umum tahun 2024. Terlibat dan terjun langsung baik dari golongan institusi partai politik, kader, dan bagian lainnya, membuat generasi milenial memiliki pandangan lebih nyaman dan senang ketika berdampingan bersama partai politik. 

Kondisi kebersamaan yang terwujud antar-kedua belah pihak yang sama-sama memiliki peranan penting bagi kemajuan bangsa, yakni pemuda dan partai politik, menciptakan hubungan hangat dan solid untuk menunjukkan kepada masyarakat kenyamanan dalam berpartai politik demi kepentingan bangsa. 

Melalui I-ce yang berorientasi pada solusi PIKep, partai politik bisa berhasil dalam menjalankan misinya untuk membangun kesadaran generasi milenial di dunia politik sehingga bisa mempersiapkan pesta pemilihan umum di tahun 2024 dengan semarak. 

 

banner 325x300