HeadlineNasional

Beberapa Negara Ini Mengalami Krisis Obat, Bagaimana dengan Indonesia?

268
×

Beberapa Negara Ini Mengalami Krisis Obat, Bagaimana dengan Indonesia?

Share this article
BBFEFFFABAEFCDE
B9BFEF0F-2F1A-48B4-A1E0-1929F7CD368E

York – Belakangan ini diberitakan bahwa obat-obatan khususnya obat demam dan flu sedang krisis di beberapa negara, akibatnya beberapa negara tersebut kehabisan stock di musim flu dan demam saat ini.

Salah satu negara tersebut seperti Taiwan, obat-obatan menjadi langka setelah para warga berbondong-bondong membelinya untuk dijual ke China, yang juga mengalami kelangkaan obat. Ini mendorong pemerintah untuk meminta dan menghimbau warga untuk membeli sebijak mungkin.

Pusat Komando Epidemi Pusat Taiwan, Victor Wang, mengatakan sudah ada kekurangan Panadol, nama merek obat penghilang rasa sakit dan obat antipiretik acetaminophen. Sebuah survei baru-baru ini juga menemukan bahwa beberapa toko obat di Taiwan hampir kehabisan Panadol.

“Ada pembelian Panadol dalam jumlah besar di sini, dan hampir tidak ada yang tersisa di rak, atau sangat sedikit,” kata Wang dalam konferensi pers di Taipei yang dikutip Radio Free Asia, Selasa (20/12/2022).

“Kami ingin mengingatkan semua orang bahwa mereka hanya harus membeli obat-obatan seperti Panadol secukupnya, sesuai kebutuhan. Jangan membelinya dalam jumlah banyak dan mengirimnya ke luar negeri.”

Bergeser dari Asia, kekurangan obat-obatan juga terjadi di Amerika Serikat (AS). Di Negeri Paman Sam itu, sejumlah obat seperti Tylenol untuk anak mengalami kelangkaan yang disebabkan musim flu dan juga penyakit pernapasan lain.

Tak hanya obat-obatan, dokter dan ahli lainnya mengatakan kekurangan susu formula bayi juga ikut melanda negara itu.

“Ada lebih banyak anak yang sakit pada tahun ini daripada yang kita lihat dalam beberapa tahun terakhir,” kata Shannon Dillon, seorang dokter anak di Riley Children’s Health di Indianapolis, dilansir Associated Press.

Sementara itu, kelangkaan obat pun menyeret salah satu negara Eropa, Irlandia. Hal ini terjadi saat musim dingin tiba dan sistem kesehatan yang bersaing dengan peningkatan infeksi Strep A dan penyakit pernafasan RSV.

Otoritas Pengatur Produk Kesehatan (HPRA) Irlandia mengaku sebanyak 187 obat yang digunakan oleh pasien telah mengalami kehabisan stok. Ini termasuk 11 yang masuk dalam daftar ‘obat kritis’ yang diklasifikasikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Dari jumlah tersebut, 40% hanya memiliki satu pemasok. Itu berarti apoteker tidak memiliki cara untuk mencari alternatif bagi pasien.

“Obat-obatan yang saat ini mengalami kekurangan digunakan di berbagai bidang kesehatan, termasuk infeksi, pereda nyeri, pengobatan kanker, kejang, kesehatan mental, tekanan darah, diabetes dan terapi penggantian hormon,” menurut HPRA dalam laporan Irish Times.

“Amoksisilin dan penisilin, yang saat ini banyak diminati karena infeksi musim dingin meningkat, termasuk dalam daftar obat kritis Organisasi Kesehatan Dunia yang saat ini mengalami masalah pasokan. Obat lain dalam daftar obat kritis WHO adalah obat kemoterapi Vinorelbine yang banyak digunakan.”

Baca Juga  Sanksi DKPP Warning Bagi Penyelenggara Pemilu

Direktur pelaksana perusahaan farmasi Azure Pharmaceuticals, Sandra Gannon, mengatakan bahwa situasi ini membuat Irlandia memiliki stok obat yang jauh lebih parah dibandingkan negara-negara Eropa lainnya. Ia menambahkan hal ini terjadi lantaran langkah pemerintah yang menekan harga obat di negara itu.

“Konsekuensinya adalah pasien dan apoteker berada dalam situasi yang semakin memburuk. Penderita akan semakin cemas. Apoteker terpapar oleh realitas situasi pasokan sumber tunggal, dokter yang kewalahan, dan ketidakfleksibelan untuk memberi mereka mekanisme baru untuk merespons,” paparnya.

“Perbedaan antara Irlandia dan pasar UE lainnya sangat akut pada obat-obatan yang lebih tua dan bernilai rendah. Ini mengutip harga yang ditetapkan oleh Eksekutif Layanan Kesehatan untuk parasetamol di Irlandia sebesar 1,73 euro per 100 tablet, dibandingkan dengan 3,51 euro di seluruh Eropa.”

Bagaimana dengan Indonesia?

Setelah sebelumnya Kementerian Kesehatan RI memberikan instruksi kepada semua apotek seluruh Indonesia untuk berhenti menjual obat sirup guna merespon kewaspadaan ditengah melonjaknya kasus gagal ginjal akut yang banyak menyerang anak-anak di Indonesia akibat mengonsumsi obat sirup tersebut. Perintah larangan penggunaan obat sirup ini terdapat dalam surat edaran (SE) Kemenkes Nomor SR.01.05/III/3461/2022.

Kementerian Kesehatan RI kembali mengizinkan tenaga kesehatan meresepkan 156 obat sirup, yang sebelumnya dilarang karena diduga mengandung zat berbahaya pemicu gangguan ginjal akut pada anak-anak (25/10/22).

Ratusan obat itu dipastikan tidak menggunakan Propilen Glikol, Polietilen Glikol, Sorbitol, dan/atau Gliserin/Gliserol, sehingga dinyatakan aman “aman”, sepanjang digunakan sesuai aturan pakai.

“Jenis obat yang boleh digunakan sesuai dengan rekomendasi Badan POM” kata Juru bicara Kemenkes, Syahril Mansyur.

Tenaga Kesehatan di setiap fasilitas kesehatan dapat meresepkan atau memberikan obat sirup berdasarkan pengumuman dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI.

Sementara untuk obat yang sulit digantikan dengan sediaan lain, tenaga kesehatan juga diizinkan meresepkan atau memberikan obat sesuai yang tercantum dalam lampiran 2 daftar yang dikeluarkan BPOM, sampai didapatkan hasil pengujian.

Dengan keputusan baru ini, apotek dan toko obat juga dapat menjual bebas dan/atau bebas terbatas kepada masyarakat sebagaimana tercantum dalam lampiran 1 dan lampiran 2 daftar BPOM, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Kemenkes memerintahkan Dinas Kesehatan Provinsi, Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, dan Fasilitas Pelayanan Kesehatan melakukan pengawasan dan memberikan edukasi kepada masyarakat terkait dengan penggunaan obat sirup sesuai dengan kewenangan masing-masing.

“Kementerian kesehatan RI akan mengeluarkan surat pemberitahuan kembali setelah diperoleh hasil pengujian Badan POM RI atas jenis obat obatan sirup lainnya” kata dr. Syahril menambahkan.

Pada Minggu (23/10), BPOM mengumumkan 30 obat dari 102 produk obat cair atau sirup, yang dikonsumsi oleh pasien-pasien gangguan ginjal akut, diklaim “aman digunakan”, tapi ada tiga yang disebut “mengandung cemaran”.

Kepala BPOM Penny Lukito menyatakan, merujuk hasil sampling dan pengujian yang telah dilakukan BPOM, 23 obat “terbukti tidak menggunakan keempat produk Propilen Glikol, Polietilen Glikol, Sorbitol, dan atau Gliserin/Gliserol”, sehingga aman digunakan.

Selain itu, tambah Penny, ada tujuh produk lain yang sudah dilakukan pengujian dan hasilnya “dinyatakan aman digunakan sepanjang aturan pakai”.

“Kemudian ada tiga produk yang telah dinyatakan pengujian dan dinyatakan mengandung cemaran, EG (etilen glikol) dan DEG (dietilen glikol), melebihi ambang batas aman,” jelas Penny dalam konferensi pers yang digelar Minggu (23/10).

Ketiga produk ini termasuk dalam daftar lima obat yang telah ditarik dari peredaran oleh BPOM karena diduga mengandung EG dan DEG.

Dengan demikian, lanjut Penny masih ada 69 produk yang masih dalam proses sampling dan pengujian.

“Secepatnya kami akan mengeluarkan secara bertahap karena ini menyatakan sudah bertambah yang aman dan kemudian tentunya menjadi pilihan untuk segera dikonsumsi,” terang Penny.

Saat ini, Kementerian Kesehatan RI masih kerap memantau perkembangan ini, dan Indonesia masih berada dalam situasi yang jauh dari krisis obat. Namun, karena ancaman krisis obat ini sudah terlihat di beberapa negara tersebut, akan lebih baik jika pemerintah Indonesia juga mulai melakukan tindakan preventif sehingga Indonesia tidak mengalami krisis obat seperti yang terjadi di negara-negara tersebut.

Image credit: Antara Foto – Petugas Dinas Kesehatan Kota Medan melakukan inspeksi mendadak (sidak) di sejumlah apotek di Jalan Setia Budi, Medan, Sumatera Utara, Jumat (21/10).

banner 325x300