Nasional

Peringatan Hardiknas, Kenali Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Indonesia

547
×

Peringatan Hardiknas, Kenali Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Indonesia

Share this article
Ki Hadjar Dewantara
Ki Hadjar Dewantara

G24NEWS.TV, JAKARTA – Setiap 2 Mei, Bangsa Indonesia akan memperingati sebuah peringatan penting, yakni Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang tidak lepas dari sosok Ki Hadjar Dewantara, siapa dia?

Berbicara soal Hardiknas, maka kita tidak akan pernah bisa lepas dari sosok yang sangat memegang peranan penting di dalamnya. Siapa lagi kalau bukan Ki Hajar Dewantara.

Siapa sebenarnya sosok Ki Hajar Dewantara dan hal apa saja yang dilakukannya demi dunia Pendidikan tanah air sebelum akhirnya Hari Pendidikan nasional ditetapkan pada 2 Mei.

Sosok Ki Hadjar Dewantara

Ki Hajar Dewantara dilahirkan pada Kamis Legi 2 Ramadhan 1309 H atau bertepatan dengan tanggal 2 Mei 1889. Karena keluarga besar beliau merupakan keturunan pangeran Kadipaten Puro Pakualaman yang notabenenya adalah seorang ningrat, maka nama lengkapnya menjadi Raden Mas Soewardi Soejaningrat.

Soewardi kecil mendapatkan pendidikan  pesantren di Kalasan asuhan Kyai Haji Sulaiman Abdurrahman. Setelah ayah Soewardi merasa bahwa ilmu agama yang diperoleh anaknya dari pondok pesantren sudah cukup, maka ayah Soewardi memutuskan untuk memasukkan Soewardi ke sekolah Goverment Belanda, yakni ELS (Europeesche Lagere School) yang berada di Kampung Bintaran dekat dengan kadipaten tempat tinggal Soewardi.

Setelah lulus dari ELS, ayah Soewardi menginginkan Soewardi melanjutkan sekolah ke OSVIA (Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren) yang merupakan sekolah bagi calon pegawai Goverment Belanda. Karena Soewardi sudah merasakan adanya kesenjangan pendidikan antara anak-anak Belanda, anak bangsawan dan rakyat jelata.

Baca Juga  Legislator Golkar Dorong Pemerintah Berikan Perhatian Khusus Taman Nasional di Indonesia

Dalam perjalanannya, Soewardi bertemu dengan dr. Wahidin Soedirohoesodo yang menawarkan pendidikan dokter bagi anak-anak bangsawan. Mendengar pemaparan dr. Wahidin bahwa rakyat kekurangan tenaga medis, maka Soewardi memutuskan untuk meninggalkan sekolah Kweekschool dan memilih melanjutkan sekolah di STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen) yang terletak di Batavia. Di STOVIA, Soewardi bertemu dengan anak-anak bangsawan lain dari berbagai daerah yang ternyata memiliki visi perjuangan yang sama dengannya.

Sehingga, kegiatannya di sekolah tidak hanya diisi dengan belajar mata pelajaran sekolah saja melainkan diisi dengan diskusi-diskusi kebangsaan.

Semboyang Ki Hajar Dewantara
Semboyan Ki Hajar Dewantara

 

Mendirikan Indische Partij

Awalnya Ki Hajar Dewantara hanya seorang penulis dan jurnalis yang kemudian menjadi aktivis kebangsaan. Beliau diketahui tergabung dalam tokoh Tiga Serangkai Bersama Douwes Dekker dan Tjipto Mangunkusumo yang mendirikan sebuah organisasi bernama Indische Partij (IP). Berawal dari mendirikan IP pada 25 Desember 1912, Ki Hajar Dewantara sangat menyadari jalan untuk melawan kolonialisme dimulai dari Pendidikan yang baik.

Semboyan Terkenal Ki Hajar Dewantara

Ki Hajar Dewantara juga memiliki semboyang yang sangat terkenal dari dulu hingga sekarang. Semboyan itu adalah “Tut Wuri Handayani, Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Mangun Karso”. Ing Ngarso Sung Tulodo artinya menjadi seorang pemimpin harus mampu memberikan suri tauladan.

Baca Juga  Erwin Aksa: Tingkatkan Mutu Pendidikan Sekolah Kejuruan

Ing Madyo Mbangun Karso, artinya seseorang ditengah kesibukannya harus juga mampu membangkitkan atau menggugah semangat.

‘Tut Wuri Handayani, seseorang harus memberikan sorongan moral dan semangat kerja dari belakang. Semboyan Tit Wuri Handayani ini kini menjadi slogan dari kementrian Pendidikan Nasional Indonesia.

Pendiri Taman Siswa

Ki Hajar Dewantara atau Soewardi mengembangkan konsep mengajar bagi sekolah yang beliau dirikan pada 3 juli 1922, yakni Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa atau Perguruan Nasional Tamansiswa.

Saat beliau genap berusia 40 tahun menurut hitungan penanggalan jawa, beliau mengganti namanya menjadi Ki Hajar Dewantara. Beliau juga tidak lagi menggunakan gelar kebangsawanan di depan namanya.

Ki Hajar Dewantara Diangkat jadi Menteri

Pada kabinet Republik Indonesia, Ki Hajar Dewantara diangkat menjadi Menteri Pengajaran Indonesia pertama. Pada 1957 beliau mendapat gelar doktor kehormatan (doctor honoris causa, DR.H.C.) dari universitas tertua Indonesia, Universitas Gadjah Mada.

Atas jasa-jasanya dalam merintis Pendidikan umum, beliau dinyatakan sebagai bapak Pendidikan Nasional Indonesia dan hari kelahirannya dijadikan Hari Pendidikan Nasional (Surat Keputusan Presiden RI no. 305 tahun 1959, tanggal 28 November 1959).

Hingga pada suatu hari beliau meninggal dunia di Yogyakarta pada 26 April 1959 dan dimakamkan di Taman Wijaya Brata.

 

banner 325x300