HeadlineInternasional

Setelah Inggris, Krisis Sistem Kesehatan Juga Menyerang Prancis, Apa Penyebabnya?

222
×

Setelah Inggris, Krisis Sistem Kesehatan Juga Menyerang Prancis, Apa Penyebabnya?

Share this article
ambulance di prancis
ambulance di prancis, krisis kesehatan melanda Prancis. (Foto file - Anadolu Agency)

G24NEWS.TV, YORK  – Isu kesehatan menjadi isu yang sangat krusial dan menjadi topik yang lebih sering dibahas sejak seluruh negara bersama-sama memerangi COVID-19 semenjak 2019. Setiap negara menjadi sangat memperhatikan sistem kesehatan di negara nya, banyak negara yang semakin meningkatkan sistem kesehatan negara sebagai upaya tindakan preventif untuk siap menghadapi segala krisis kesehatan yang akan datang.

Namun, sepertinya dalam proses peningkatan sistem kesehatan negara, Inggris dan Prancis harus menghadapi krisis lain dan menjadi kendala. Sistem kesehatan Inggris sedang menghadapi penurunan karena kekurangan staf dan kurangnya tempat tidur di rumah sakit. Sementara itu, di Prancis, ada lebih banyak dokter dan perawat, namun sistem perawatan kesehatannya masih dalam krisis.

Presiden Emmanuel Macron telah berjanji untuk mengubah cara rumah sakit didanai, dan membebaskan dokter dari administrasi yang memakan waktu, dalam upaya untuk memerangi “krisis tanpa akhir” dalam layanan kesehatannya. Serangkaian tindakan menarik selama beberapa tahun terakhir dilakukan, salah satunya seperti bonus pendaftaran sebesar €50.000 untuk dokter umum di area yang kurang terlayani.

Namun, tekanan pada rumah sakit dan dokter umum terus meningkat karena adanya penyakit musim dingin yang meningkat tiga kali lipat, membuat staf medis menjuluki bulan ini  sebagai “Black January” atau “Januari Kelam”.

Setelah bertahun-tahun Covid, dan dengan terjadinya inflasi, banyak yang mengatakan kekurangan staf yang kronis dan permintaan yang meningkat membuat pekerjaan mereka menjadi tidak mungkin diselesaikan dan dilakukan dengan baik, sehingga dapat mengancam sistem kesehatan Prancis.

Beberapa rumah sakit melaporkan hingga 90% staf mereka melakukan “protes cuti sakit” pada kondisi tersebut. Dan serikat kesehatan terbesar kedua di Prancis telah menyerukan “pemogokan tanpa batas” minggu ini, menyusul pemogokan selama dua minggu oleh dokter umum Prancis.

Julia Venturini, yang sudah mengejar gelar dokter selama delapan tahun bergabung dengan rapat umum dokter umum di Paris minggu lalu.

“Saya membuat pilihan ini [menjadi dokter umum] tetapi sekarang saya memiliki banyak pertanyaan tentang masa depan saya,” ujarnya.

“Kita semua berada di kapal yang sama, dan kapalnya sekarang seperti Titanic. Ketika kondisi layanan darurat menurun, dokter, dan rumah sakit juga, membuat sistem kesehatan di Prancis benar-benar rapuh” pungkas Julia.

Julia juga mengatakan bahwa ia dan banyak teman-temannya sedang mempertimbangkan apakah akan berhenti sepenuhnya dari profesinya, atau mencoba bekerja di luar negeri.

“Saya khawatir sebagai calon dokter, tapi saya juga khawatir sebagai pasien,” katanya.

“Sekarang di Prancis, [kondisinya] sangat rumit, dan jika Anda punya uang di Inggris, Anda bisa mendapatkan perawatan. Jadi, saya pikir saya lebih suka menjadi orang kaya di Inggris, dan mendapatkan perawatan yang baik [di sana]”, ujarnya.

Apa Perbedaan Kondisi “Buruk” Sistem Kesehatan di Inggris dan Prancis?

Penyebab krisis perawatan kesehatan Prancis sangat kompleks, tetapi tekanan jangka panjang dari populasi yang menua di samping kekurangan staf medis menjadi fokus utama. Prancis memiliki lebih banyak dokter per kepala populasi daripada Inggris, dan lebih banyak perawat.

Baca Juga  Ledakan di Polsek Astanaanyar Bandung, Dikonfirmasi Serangan Bom Bunuh Diri

Tetapi menurut World Health Organization (WHO), hampir setengah dari dokter Prancis berusia di atas 55 tahun dan mendekati pensiun. Berbeda dengan di Inggris, angka menuju pensiun itu hanya sekitar 15%. Banyak petugas medis yang lebih muda tertunda oleh tekanan profesionalitas dan juga tekanan keuangan yang semakin meningkat, akibat Covid.

Pauline Dubar, salah satu perawat di Prancis menyampaikan bahwa pasien meningkat lebih dari tiga kali lipat sejak pandemi Covid dimulai.

“Pada awal Covid, orang-orang takut akan hal yang tidak diketahui, kemudian muncul keletihan,” katanya.

“Dan hari ini kita berada dalam fase yang sangat mengkhawatirkan dimana kita secara teratur menyiagakan layanan darurat untuk orang-orang yang menelepon mengatakan bahwa mereka akan bunuh diri” sambung Pauline.

National Order of Nurses memperkirakan bahwa 40% perawat yang bekerja ingin meninggalkan profesinya, meskipun pemerintah mengalokasikan tambahan €12 miliar setahun untuk gaji pekerja rumah sakit.

“Gajinya [memang] sedikit lebih tinggi dari sebelumnya. Tapi untuk gaji yang layak, kita harus bekerja malam dan akhir pekan, dan itu akhirnya menjadi hal yang melelahkan yang berkepanjangan”, ungkapnya.

Pauline mengatakan sekarang lebih sedikit orang yang mau bekerja dengan jam seperti itu, terutama ketika inflasi memotong upah, dan kekurangan staf berarti lebih banyak shift yang membuat stres para pekerja.

Dia menggambarkan dirinya sendiri yang bertanggung jawab atas 30 pasien, sebagai perawat semalam. Dan mengatakan kurangnya jumlah staf minimum di luar unit perawatan intensif membuat pasien dan staf dalam kondisi yang “berbahaya”.

Janji Presiden Macron untuk mengubah cara rumah sakit didanai dirancang untuk mengurangi sebagian tekanan pada staf.

Seperti di Inggris, rumah sakit Prancis sebagian didanai sesuai dengan prosedur yang mereka lakukan, menciptakan insentif untuk melakukan sebanyak mungkin prosedur dengan bayaran tinggi.
Macron mengatakan dia ingin beralih ke model pendanaan berdasarkan tujuan kesehatan yang disepakati bersama, meskipun belum jelas bagaimana cara kerjanya. Dan itu tidak menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh dokter.

“Saya bekerja 60 jam seminggu,” kata Patricia Lanco-Saint-Guily, seorang dokter umum di Toulouse yang mogok minggu lalu.

“Jika saya bekerja lebih sedikit, saya tidak bisa hidup. Kami kesal dan lelah. Saya berusia 52 tahun, dan saya ingin berganti pekerjaan” ungkap Patricia.

Dokter menginginkan biaya konsultasi dua kali lipat dari €25 menjadi €50. Namun penolakan datang dari pemerintah, pemerintah telah mengatakan bersedia dengan peningkatan biaya tersebut, tetapi tidak sebesar itu. Hal ini membuat para dokter menjauh dari profesinya, dan membuat semakin kurangnya jumlah dokter yang tersedia.

Presiden Macron telah berjanji untuk merekrut lebih banyak asisten medis, dan mendelegasikan beberapa tugas kepada apoteker dan perawat, untuk membebaskan lebih banyak waktu konsultasi bagi dokter umum.

Baca Juga  Airlangga Hartarto Safari Politik ke Purworejo Jawa Tengah

Pemerintah Prancis juga menawarkan bonus pendaftaran €50.000 untuk dokter umum yang berkomitmen pada area yang paling tidak terlayani selama lima tahun. Seperti pedesaan yang berada di pinggiran kota Prancis.

Dan pemerintah baru saja mengesahkan undang-undang baru, yang mewajibkan semua mahasiswa kedokteran tahun keempat untuk menyelesaikan magang selama satu tahun di tempat yang disebut pedesaan tersebut.

“Kami mencoba merekrut satu, tetapi [sulit], kami tidak mendapatkan kandidat. Tidak ada yang mau datang. Dokter takut tiba di sini sendirian dan tenggelam oleh permintaan [tinggi dari pasien]”, kata Walikota Arnaud Provenchère.

Dokter yang bekerja berdasarkan konsultasi, seperti yang dilakukan mayoritas, mengatakan kenaikan inflasi dan dokumen yang bertambah memaksa mereka untuk bekerja dengan jam kerja yang sangat panjang. Di pedesaan, tekanan itu bertambah dengan dukungan medis yang sangat sedikit, dan layanan publik yang terbatas.

Muak dengan situasi dan kondisi tersebut, akhirnya Walikota Provenchère memutuskan untuk memecahkan masalah tersebut dengan menawarkan dokter kontrak pemerintah daerah, dengan jam kerja yang ditetapkan, gaji tetap dan asisten medis. Ini membuat keuangan lokal menjadi 40.000 euro per tahun.

Céline Preux, seorang dokter di Prancis mulai bekerja di pedesaan itu minggu lalu.

“Ada beberapa janji temu yang benar-benar menyentuh saya. Orang-orang dalam kondisi rapuh. Beberapa hampir dalam bahaya karena mereka menghentikan pengobatan tiroid sejak lama, atau berisiko mengalami serangan jantung akut, karena tidak dirawat dengan baik”, ujar Céline.

Céline bekerja dua hari seminggu di rumah sakit dan mengatakan dia secara teratur melihat limpahan pasien dari pedesaan di unit gawat darurat di sana.

Guillaume Garot, seorang anggota parlemen Sosialis yang memimpin RUU lintas partai untuk mengatasi masalah medis di pedesaan menyampaikan,

“Delapan juta orang Prancis tinggal di sini [pedesaan], dan enam juta orang tidak memiliki dokter,” katanya.

“Dibutuhkan rata-rata enam bulan untuk mendapatkan janji temu di departemen saya di Mayenne; sedangkan di Paris dibutuhkan dua jam”, lanjutnya.

Solusi jangka pendek, menurutnya, adalah agar pemerintah mengontrol di mana dokter baru dapat berlatih dam menyalurkan para dokter ke area yang belum terjamah.

“[Tapi menurutnya] solusi sebenarnya adalah memungkinkan generasi muda dari latar belakang kelas pekerja dan pedesaan untuk menjadi dokter. Karena dibesarkan di wilayah ini, mereka akan lebih mudah untuk kembali berlatih di sana”, pungkasnya.

Presiden Macron telah berjanji bahwa 600.000 pasien sakit kronis yang saat ini tinggal di Prancis tanpa dokter akan memiliki akses ke satu atau ke tim perawatan pada akhir tahun ini.

Namun kehilangan tenaga medis adalah masalah kesehatan Prancis yang paling mendesak terutama di daerah pedesaan, dan hal ini tidak akan dengan mudah diselesaikan.

 

banner 325x300