NasionalVideo

Hari Juang Kartika, Ini Sejarah dan Kisah Karir Militer Pak Harto

183
×

Hari Juang Kartika, Ini Sejarah dan Kisah Karir Militer Pak Harto

Share this article
tentara nembak
tentara-nembak

G24NEWS.TV, JAKARTA — Tanggal 15 Desember diperingati sebagai Hari Juang Kartika TNI Angkatan Darat untuk mengenang Pertempuran Ambarawa yang sebelumnya bernama Hari Infanteri.

Saat itu, Perjuangan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang dipimpin Jenderal Soedirman pada pertengahan Desember 1945 membuat tentara sekutu terjepit hingga akhirnya musuh mundur dari Ambarawa menuju Semarang.

Meskipun dihadang dengan seluruh kekuatan persenjataan modern serta kemampuan taktik dan strategi sekutu, namun para pejuang tanah air tak pernah gentar. Para pejuang melancarkan serangan dengan gigihnya sambil melakukan pengepungan ketat di seluruh penjuru Kota Ambarawa.

Gerakan pengepungan rangkap ini berbuah hasil karena sekutu benar-benar terkurung. Jenderal Soedirman menegaskan perlunya mengusir tentara sekutu dari Ambarawa secepat mungkin. Karena waktu itu sekutu akan menjadikan Ambarawa sebagai basis kekuatan untuk merebut Jawa Tengah.

Bermodalkan semboyan “Rawe-rawe rantas malang-malang putung, patah tumbuh hilang berganti”, pasukan TKR memiliki tekad yang kuat untuk membebaskan Ambarawa atau gugur di pangkuan Ibu Pertiwi.

Karir Militer Soeharto

Membicarakan sejarah tentara di Indonesia, tidak bisa dilepaskan dari perjalanan hidup Presiden kedua Soeharto. Pak Harto adalah presiden yang memiliki latar belakang  militer.

Pria yang dijuluki sebagai The Smiling General itu dilantik menggantikan Presiden Soekarno pada 12 Maret 1967. Namun sebelum diangkat menjadi presiden, Soeharto yang lahir di Bantul itu adalah anggota militer aktif dengan pangkat Mayor Jenderal.

Baca Juga  Timsel Calon Anggota Bawaslu Harus Utamakan Integritas

Pada awalnya, Soeharto diterima sebagai siswa di sekolah militer di Gombong, Jawa Tengah pada 1 Juni 1940. Pada saat itu, prestasi Soeharto sebagai siswa terbilang cukup mentereng.

Waktu itu, Soeharto mampu menamatkan latihan dasar selama enam bulan di sekolah militer hingga dinobatkan sebagai lulusan terbaik serta menerima pangkat kopral. Hingga saat Perang Dunia II terjadi pada 1942, Soeharto dikirim ke Bandung untuk menjadi tentara cadangan, yang bertempat di Markas Besar Angkatan Darat selama satu minggu.

Kemudian Soeharto mendapatkan pangkat Sersan di Koninklijke Nederlandsch-Indische Leger (KNIL) dan menjadikan dirinya sebagai komandan peleton, komandan kompi, komandan resimen dengan pangkat Mayor. Kemudian dia  komandan batalyon berpangkat Letnan Kolonel di dalam militer yang disponsori oleh Jepang yaitu Pembela Tanah Air (PETA).

Meskipun demikian, Soeharto tetap ditunjuk menjadi Komandan Brigade Garuda Mataram, dengan pangkat Letnan Kolonel. Soeharto lalu ditugaskan memimpin operasi penumpasan pemberontak Andi Azis di Sulawesi.

Tak lama setelah itu, dia ditunjuk menjadi komandan Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat (APRIS) Kota Makassar. Penunjukkan Soeharto waktu itu dengan tujuan untuk mengamankan kota dari gangguan mantan anggota KNIL/KL.

Serangan Umum 1 Maret 1949

Soeharto pada 1 Maret 1949 berperan dalam Serangan Umum dan berhasil menduduki Kota Yogyakarta selama enam jam.  Soeharto memimpin Brigade X dalam serangan umum yang dilakukan di Yogyakarta dan berhasil menduduki kota itu selama enam jam sebagai bukti bahwa Republik Indonesia masih ada.

Baca Juga  Ini Sejarah Hari Tritura, Salah Satu Tonggak Lahirnya Orde Baru 

Kemudian pada 3 Juni 1956, Soeharto diangkat menjadi Kepala Staf Panglima Tentara dan Teritorium IV Diponegoro di Semarang. Dimulai dari Kepala Staf, Soeharto diangkat sebagai pejabat Panglima Tentara dan Teritorium IV Diponegoro. Hingga pada 1 Januari 1957, Soeharto naik pangkat menjadi Kolonel.

Tak hanya itu, pada 1 Oktober 1961, jabatan rangkap sebagai Panglima Korps Tentara I Caduad (Cadangan Umum AD), bertambah dengan jabatan baru sebagai Panglima Kohanudad (Komando Pertahanan AD).

Setelah itu, pada tahun yang sama yakni 1961, Soeharto mendapatkan tugas sebagai Atase Militer Republik Indonesia di Beograd, Perancis, dan Bonn, Jerman. Satu tahun berselang, yaitu 1 Januari 1962 pangkatnya dinaikkan menjadi Mayor Jenderal.

Kemudian di pertengahan tahun, Soeharto diangkat menjadi Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad), hingga 1965. Begitu juga pada tahun 1962, Soeharto juga terlibat dalam Operasi Trikora Pembebasan Irian Barat. Pada tahun 1997, tepatnya tanggal 5 Oktober, Soeharto saat menghadiri HUT ABRI ke-52 terlihat tampil mengenakan pangkat lima bintang di pundaknya.

Beberapa hari sebelum acara itu, Jenderal Feisal Tanjung yang merupakan Panglima ABRI saat itu memberikan pangkat kehormatan untuk Soeharto.

 

banner 325x300