EkonomiHeadlineInternasional

Indonesia Dekati Raksasa Teknologi AS untuk Percepat Transformasi Digital

53
×

Indonesia Dekati Raksasa Teknologi AS untuk Percepat Transformasi Digital

Share this article
Elon Musk, di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) World Water Forum ke-10 yang berlangsung di Bali International Convention Center (BICC), Kabupaten Badung, Provinsi Bali pada Senin, 20 Mei 2024.
Elon Musk, di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) World Water Forum ke-10 yang berlangsung di Bali International Convention Center (BICC), Kabupaten Badung, Provinsi Bali pada Senin, 20 Mei 2024. (Foto: BPMI Setpres/Muchlis Jr)

G24NEWS.TV, JAKARTA — Indonesia membuka pintu lebar bagi Silicon Valley, menawarkan potensi digital yang luas bagi para raksasa teknologi AS yang ingin memasuki pasar dengan lebih dari 270 juta konsumen dan menjadi medan pertempuran strategis dominasi teknologi.

Mengutip Benarnews, dalam sebulan terakhir, CEO Apple Tim Cook, Satya Nadella dari Microsoft, serta Elon Musk, boss SpaceX dan Tesla, telah bertemu dengan Presiden Indonesia Joko “Jokowi” Widodo. Mereka membahas investasi miliaran dolar dalam manufaktur, kecerdasan buatan, komputasi awan, bahkan Starlink, layanan internet berbasis satelit milik Musk.

Digaetnya raksasa teknologi ini terjadi seiring Indonesia berupaya memposisikan diri sebagai pemain utama dalam lanskap teknologi global.

Bagi perusahaan teknologi AS, Indonesia mewakili peluang menarik untuk melebarkan sayap melampaui pasar yang jenuh dan memasuki wilayah dengan potensi pertumbuhan besar. Ekonomi digital Indonesia diproyeksikan mencapai $124 miliar pada tahun 2025, didorong oleh meningkatnya penetrasi internet, kelas menengah yang semakin besar, dan sektor e-commerce yang berkembang pesat.

Pemerintah Indonesia menjadikan digitalisasi sebagai prioritas utama, meluncurkan inisiatif untuk meningkatkan konektivitas internet, mempromosikan e-commerce, dan mendorong ekosistem startup yang berkembang.

“Pak Musk, Indonesia saat ini sedang menjalani percepatan transformasi digital nasional dan membuka banyak potensi investasi di sektor infrastruktur, teknologi pemerintahan, ekonomi digital, dan masyarakat digital,” kata Jokowi saat bertemu Musk di Bali, Senin.

“Oleh karena itu, kami mengapresiasi dan terus mendorong pengembangan investasi perusahaan SpaceX, Tesla, Neuralink, dan Boring di Indonesia,” katanya, merujuk pada berbagai usaha bisnis Musk.

Dalam upayanya menjadi pusat manufaktur kendaraan listrik (EV) global, Indonesia secara aktif mencari investasi dari Tesla. Indonesia, yang kaya akan cadangan bijih nikel, ingin memanfaatkan sumber daya ini untuk produksi baterai EV dan mobil listrik skala penuh.

Lokasi strategis dan sumber daya alam yang melimpah menjadikan Indonesia tujuan menarik bagi investor yang mengincar pasar EV yang terus meningkat.

Visi Indonesia sejalan dengan larangan ekspor nikel mentah, mendorong investor untuk memurnikan nikel di dalam smelter Indonesia, di mana China telah banyak berinvestasi.

Dengan melakukan hal ini, Indonesia berharap dapat meningkatkan manufaktur baterai dan menarik investasi asing di sektor terkait.

Pemerintahan Jokowi telah secara aktif mendekati Tesla selama bertahun-tahun, meskipun belum sukses menarik investasi. Dalam kunjungan Musk ke Bali, ia meluncurkan layanan Starlink, bertujuan untuk meningkatkan konektivitas internet di daerah terpencil di Nusantara.

Baca Juga  Airlangga Berharap Akses OECD dapat Tingkatkan Pendapatan Perkapita Indonesia

Di Bali, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Pandjaitan mengatakan Musk akan mempertimbangkan tawaran untuk mendirikan pabrik baterai EV di Indonesia.

Akhir bulan lalu, Satya Nadella dari Microsoft mengumumkan investasi sebesar US$1,7 miliar selama empat tahun ke depan untuk memperkuat lanskap digital Indonesia, bersama dengan peluang peningkatan keterampilan AI untuk 840.000 orang dan dukungan untuk komunitas pengembang yang berkembang di negara ini.

Ini merupakan investasi tunggal terbesar dalam 29 tahun sejarah Microsoft di negara ini.

“Bersama-sama, inisiatif ini akan membantu mencapai Visi Indonesia Emas 2045 pemerintah Indonesia, yang bertujuan untuk mengubah negara menjadi kekuatan ekonomi global,” kata Microsoft dalam sebuah posting blog.

Sebelumnya pada bulan April, Tim Cook mengatakan Apple akan “mempertimbangkan” manufaktur di Indonesia setelah bertemu Jokowi.

Diversifikasi dari China

Dengan menarik investasi Barat, Indonesia ingin mendiversifikasi kemitraan ekonominya dan mengurangi ketergantungannya pada China, yang telah menggelontorkan miliaran dolar ke dalam proyek infrastruktur, operasi penambangan, dan manufaktur.

Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan-perusahaan China telah membangun jalan, kereta, dan pembangkit listrik di Indonesia, meningkatkan konektivitas dan pembangunan ekonomi berkat Belt and Road Initiative.

“Berkawan dengan siapa saja”

Pemerintah Indonesia juga menekankan pentingnya diversifikasi mitra ekonomi dan menarik investasi dari negara lain.

“Baik China maupun AS sama saja pengaruhnya. Kalau mereka mau investasi di Indonesia, ya silakan. Tapi mereka harus berkomitmen untuk merealisasikan investasi dan tidak ternyata jualan saja atau menjadikan Indonesia sebagai pasar saja,” kata Heru Sutadi, Direktur Eksekutif Information and Communication Technology (ICT) Institute.

“Indonesia berkawan dengan siapa saja. Ini juga untuk menghindari permainan geopolitik, termasuk juga geoekonomi.”

Menyambut rencana investasi para raksasa teknologi ini, Heru menambahkan sumber daya manusia (SDM) menjadi salah satu hal yang paling penting.

“Tentu harus dipastikan dengan metode apa pembangunan SDM-nya. Bahkan (pemerintah harus) mendorong mereka membangun pusat peningkatan pengetahuan digital, termasuk kerja sama dengan perguruan tinggi,” papar Heru.

Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Tauhid Ahmad, mengatakan diresmikannya Starlink di Indonesia oleh Elon Musk sendiri menandakan bahwa Indonesia sudah berada pada jalur rantai nilai global produk-produk teknologi maju.

“Secara geopolitik juga kehadiran Starlink menandakan hadirnya kekuatan besar teknologi (komunikasi) di Indonesia secara nyata, selain teknologi 5G milik China,” ujar Tauhid kepada BenarNews.

Hanya saja jika dilihat dari jumlah investasi perusahaan-perusahaan multinasional itu di Indonesia dibandingkan negara-negara tetangga di Asia Tenggara, Tauhid menilai memang masih jauh lantaran belum terbangunnya ekosistem industri teknologi, mulai dari infrastruktur, regulasi pendukung, serta produktivitas.

Baca Juga  Twitter Files, Bukti Sikap Bias Twitter pada Kaum Konservatif Amerika

“Kita belum banyak dilirik dengan insentif apa yang akan diberikan pada investasi berbasis teknologi dan kendaraan listrik (EV) yang kemudian menjadi menarik,” ujarnya.

“Regulasi yang sering kali dikeluhkan adalah berkaitan dengan ketenagakerjaan yang sering gonta-ganti. Investasi kan pengaruhnya jangka panjang, mereka balik modal juga jangka panjang,” papar Tauhid.

Kelebihan Indonesia adalah pasar yang besar, kata Tauhid.

“Dan kalau bicara produk Amerika dibandingkan China, mereka lebih hati-hati. Amerika lebih lihat pasar Asia Tenggara, lebih regional, lebih luas, bukan Indonesia semata,” ujarnya.

Misalnya, ujar Tauhid, rencana produsen mobil listrik Tesla milik Musk yang tidak jadi berinvestasi di Indonesia lantara tidak bisa terpenuhinya sejumlah aspek pendukung industri (ESG) industri nikel.

“Market kita tidak berbasis nikel. Tesla kan butuh baterai LV (low voltage) yang tidak kita produksi. Ini persoalan bisnis yang tidak bisa kita penuhi,” ujar Tauhid.

Untuk membuat ekosistem industri teknologi seperti Silicon Valley, Tauhid menyebut harus ada keterlibatan pemerintah dengan menduplikasi sistem pengembangan keahlian seperti Apple Academy.

Menurut Teuku Rezasyah, pengamat hubungan internasional di Universitas Padjadjaran, kunjungan boss teknologi AS merupakan sinyalemen bahwa Amerika mulai khawatir dengan meningkatnya pengaruh China di Asia Tenggara.

“Selain itu, AS juga melihat potensi ekonomi yang luar biasa di Indonesia, terutama dengan pembangunan yang tidak hanya berfokus di Jawa, tetapi juga di Kalimantan dan wilayah timur Indonesia,” ujarnya kepada BenarNews.

Namun, Rezasyah mengingatkan bahwa ini baru permulaan dan belum ada jaminan keberlanjutan dari pihak AS.

“Pemerintah harus memanfaatkan momentum ini untuk meminta kesetaraan,” tegasnya. “Jangan hanya mencari proyek di sini, tetapi juga bangun Indonesia. Kita harus memiliki cetak biru untuk menyiapkan sumber daya manusia, kurikulum pendidikan, dan infrastruktur pendukung lainnya agar kita tidak lagi hanya menjadi pengguna.”

“Saat ini, indeks pembangunan dan iptek kita masih tertinggal, kita masih menjadi pengguna,” katanya, “namun, jika pemerintah serius menyiapkan kurikulum pendidikan dan infrastruktur pendukung, kita bisa mencapai Indonesia emas, bukan Indonesia cemas.”

 

 

 

banner 325x300