InternasionalLifestyle

Twitter Files, Bukti Sikap Bias Twitter pada Kaum Konservatif Amerika

345
×

Twitter Files, Bukti Sikap Bias Twitter pada Kaum Konservatif Amerika

Share this article
twitter
twitter-3319619__340

G24NEWS.TV, JAKARTA — Sudah lama kaum konservatif Amerika Serikat menuduh Twitter bersikap bias. mereka menuduh media sosial berlogo burung biru itu membatasi kebebasan berbicara.

Namun, tuduhan tersebut tanpa bukti kuat. Sampai tiba saat Elon Musk membeli Twitter.

Tindakan dan keputusan Elon Musk mengelola Twitter memang kontroversial. Segala kecaman muncul dari berbagai pihak mengenai kepemimpinan  Elon Musk yang masih seumur jagung.

Mungkin karena gerah dengan segala omongan tersebut, Elon memberikan kesempatan kepada dua jurnalis,  Matt Taibbi dan Bari Weiss, untuk membaca dokumen internal Twitter, termasuk slack pegawai. Inilah yang kemudian disebut sebagai Twitter Files.

Kedua jurnalis tersebut menuangkan hasil temuannya dalam thread Twitter super panjang yang banyak menarik perhatian netizen.

Apa yang ada dalam Twitter Files?

Berdasarkan temuannya, Taibbi dan Weiss menuduh Twitter bias. Mereka melihat bahwa Twitter sengaja membungkam suara konservatif.  Dari email internal, pesan slack dan sistem moderasi content menunjukkan bagaimana Twitter membatasi jangkauan cuitan pemilik akun penganut politik sayap kanan yang populer. 

Baca Juga  Hadiri Turnamen Golf, JK Berharap Peran Ikafe Unhas Semakin Besar Bagi Bangsa

Terdapat tangkapan layar yang memperlihatkan staf Twitter menandai beberapa pengguna. Misalnya label “High Profile”, “Do Not Amplify, dan “Trend blacklist”. Pengguna Twitter yang pernah melanggar aturan juga ikut ditandai.

Namun dari file yang jumlahnya banyak , tidak dijelaskan alasan mengapa Twitter membatasi akun-akun tersebut. Apakah akun tersebut melanggar aturan, misalnya ujaran kebencian, menyebarkan informasi yang salah terkait kesehatan, atau membagikan content kekerasan.

Bagaimana Twitter memperlakukan penggunanya

Tak adanya penjelasan dalam Twitter Files membuat sulit menilai apakah Twitter telah bertindak adil kepada penggunanya.  Twitter sendiri kerap tidak konsisten dalam menerapkan peraturan.

Alih-alih melarang, Twitter malah menurunkan level content yang seharusnya masuk kategori melanggar aturan, menjadi tidak terkena peringatan. 

Satu hal yang membuat Weiss mempertanyakan Twitter bisa adil ketika ia menemukan Twitter membatasi jangkauan akun konservatif penyebar ujaran kebencian kepada komunitas LGBTQ dan akun yang membagi berita bohong terkait pemilu.  Hal-hal tersebut dilakukan oleh kaum ekstrim kanan. Jika kaum ekstrim kiri melakukan hal serupa, apakah Twitter akan membatasi jangkauan akun tersebut juga? 

Baca Juga  Indonesia Dekati Raksasa Teknologi AS untuk Percepat Transformasi Digital

Motivasi Politik

Oleh karena itu, wajar timbul asumsi bahwa Twitter membuat segala keputusan berdasarkan motivasi politik. Jika dilihat ke belakang, karyawan Twitter cenderung beraliran liberal.

Hal ini yang memancing kritikus konservatif bahwa bias tersebut mempengaruhi moderasi content. Tuduhan tersebut ditangkis karyawan Twitter bahwa moderasi content dilakukan tanpa terpengaruh pandangan politik pribadi.

Namun, algoritma Twitter menunjukkan bias kepada sayap kanan. Hal ini sulit dikonfirmasi sebab Twitter Files tidak menunjuk bukti siapa sosok yang membuat keputusan untuk menindak akun atau cuitan tertentu. 

Hal ini akan terus menjadi perdebatan tanpa akhir mengenai keadilan Twitter terhadap penggunanya. Tanpa transparansi, Twitter akan tetap menanggung tuduhan sebagai media sosial yang menunjukkan keberpihakan berlebihan kepada pihak tertentu.

banner 325x300