Ekonomi

Wacana Redenominasi Rupiah, Simak 3 Faktor Pertimbangannya!

162
×

Wacana Redenominasi Rupiah, Simak 3 Faktor Pertimbangannya!

Share this article
Mata uang Rupiah
Mata uang Rupiah

G24NEWS.TV, JAKARTA — Wacana redenominasi rupiah kembali mencuat di era kepemimpinan Menteri Keuangan Sri Mulyani yang memasukkan RUU Redenominasi Rupiah ke dalam rencana strategis Kementerian Keuangan 2020-2024.

RUU Redenominasi tidak dilanjutkan proses legislasinya oleh pemerintah dan DPR. Hal itu diakibatkan pandemi yang melanda pada awal 2020.

Tak hanya itu, baru-baru ini Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyinggung redenominasi yang perlu mempertimbangkan tiga faktor yakni:

  • Kondisi makro ekonomi yang stabil
  • Stabilitas sistem keuangan dan moneter
  • Kondisi sosial dan politik yang kondusif
Baca Juga  Prabowo Targetkan Indonesia Capai Swasembada Energi dan Air

Sebelumnya, rencana pemangkasan tiga digit nol di mata uang rupiah itu pernah muncul pada 2010 silam di masa Gubernur BI Darmin Nasution. Pasca wacana tersebut, BI melakukan kajian penerapan redenominasi rupiah.

Indonesia sendiri pernah melakukan redenominasi pada 1965 di akhir kepemimpinan Presiden Soekarno. Saat itu, Pemerintah menerbitkan pecahan baru Rp 1 yang setara dengan Rp 1.000 lama.

Benarkah Indonesia akan Lakukan Redenominasi?

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menuturkan saat ini bukan waktu yang tepat bagi Indonesia untuk melakukan redenominasi.

Baca Juga  Tiga Negara yang Redenominasi Mata Uang, Salah Satunya Turki

Pasalnya, kondisi perekonomian tanah air masih dibayangi spillover perekonomian global.

“Sekarang masih spillover rambatan dari global masih berpengaruh terhadap stabilitas sistem keuangan kita. Juga kan (perekonomian domestik) bagus stabil, tapi dari global kan masih ada,” ujar Perry Warjiyo.

Gubernur BI itu meminta masyarakat bersabar.

Redenominasi rupiah, lanjutnya, merupakan kebijakan yang besar yang butuh pertimbangan matang.

banner 325x300