Nasional

Wa Ode Rabia Perjuangkan Sarana Pendidikan Sulawesi Tenggara

335
×

Wa Ode Rabia Perjuangkan Sarana Pendidikan Sulawesi Tenggara

Share this article
Wa Ode Rabia, Anggota Dewan Perakilan Daerah (DPD) RI periode 2019-2024
Wa Ode Rabia, Anggota Dewan Perakilan Daerah (DPD) RI periode 2019-2024

G24NEWS.TV, JAKARTA – Wa Ode Rabia Al Adawia, Pen mengatakan, di Provinsi Sulawesi Tenggara masih banyak sekolah yang tidak layak digunakan untuk tempat belajar.

“Padahal, infrastruktur pendukung pendidikan yang tidak memadai akan sangat membahayakan anak-anak yang sedang belajar,” ujarnya di Jakarta, belum lama ini.

Sulawesi Tenggara (Sultra) adalah sebuah provinsi di Indonesia yang terletak bagian tenggara Pulau Sulawesi. Ibu kota Sultra yaitu Kendari.

Selain gedung-gedung sekolah dan fasilitas belajar lainnya, infrastruktur jalan menuju sekolah di Sultra juga masih banyak yang rusak dan belum memadai.

Untuk itu, dia meminta perhatian pemerintah pusat, melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) membantu pembangunan gedung-gedung sekolah dan infrastruktur di Provinsi Sulawesi Tenggara.

“Infrastruktur pendidikan terutama rehabilitasi gedung-gedung sekolah, Madrasah Aliyah maupun Pondok Pesantren yang rusak sangat mendesak untuk dilakukan,” tambah Wa Ode Rabia yang merupakan Senator dan Anggota MPR RI dari Daerah Pemilihan (Dapil) Sulawesi Tenggara.

Waj Ode Rabia Al Adawia, kelahiran 2 September 1989, aktif dalam organisasi kepemudaan yang berafiliasi Partai Golkar, yaitu Anggota Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI).

Sebelum masuk ke Senayan, dia adalah pemilik perusahaan jasa perdagangan di bawah bendera PT. Saudagar Indonesia Sejahtera dan PT. Kriya Mahamuna Jaya.

Baca Juga  Ini Rangkaian Kegiatan dalam Menyambut HUT ke-78 RI, Diawali Dzikir dan Doa Kebangsaan

Wa Ode Rabia menyelesaikan pendidikan S2 dan meraih gelar MBA dari Leeds Beckett University, di Leeds, West Yorkshire, Inggris. Kemudian, Sarjana Ekonomi lulusan Universitas Pelita Harapan.

Lebih jauh, Wa Ode Rabia mengatakan fasilitas dan sarana pendidikan sangat dibutuhkan. Ini untuk mendukung kelancaran pelaksanaan kegiatan pendidikan. Mulai dari gedung, ruang kelas, meja kursi belajar, serta alat-alat dan media pengajaran.

Partisipasi Pendidikan Prasekolah 26,88%

Data BPS soal keadaan pendidikan di Sulawesi Tenggara berdasarkan pengolahan data Susenas Maret tahun 2021, menunjukkan partisipasi pendidikan prasekolah daerah pedesaan mencapai 26,88 persen dari usia prasekolah.

“Angka ini lebih tinggi dibandingkan di perkotaan sebesar 24,97 persen dengan selisih yang relatif kecil, yaitu 1,91 persen poin,” tulis BPS Sulteng.

Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru, rasio minimal jumlah murid terhadap guru pada jenjang SD, SMP dan SMA idealnya adalah 20 orang. Sedangkan pada SMK, idealnya adalah satu guru bertanggung jawab terhadap 15 murid.

Meskipun demikian, rasio guru-murid bukan merupakan faktor mutlak dalam keberhasilan proses belajar anak. Keterampilan dan pengalaman guru juga perlu dipertimbangkan.

Baca Juga  Parpol Diimbau Tak Daftarkan Bakal Calon DPR di Hari Terakhir

Jumlah Pendidik Tidak Sebanding Dengan Sekolah

Angka Partisipasi Sekolah (APS) menggambarkan ukuran daya serap sistem pendidikan terhadap penduduk usia sekolah. APS merupakan proporsi dari semua anak yang masih sekolah pada satu kelompok umur tertentu terhadap penduduk dengan kelompok umur yang sesuai.

Menurut kelompok umur sekolah setiap jenjang pendidikan, yaitu SD (7-12 tahun), SMP (13-15 tahun), dan SMA (16-18 tahun). APS terbesar berada pada kelompok umur 7-12 tahun yaitu 99,16 persen. Dapat diartikan bahwa hampir semua anak usia 7-12 tahun masih bersekolah.

Nilai APS semakin kecil seiring kenaikan kelompok umur. Hal ini menunjukkan bahwa semakin bertambah usia penduduk, partisipasi sekolahnya cenderung semakin menurun. Namun, jumlah peserta didik menunjukkan perbedaan yang tidak sebanding dengan jumlah sekolah.

Persentase peserta didik pada MI swasta sebesar 69,90, MTs swasta mencapai 56,44 persen, dan SMA/MA sebesar 63,85 persen. Hal ini menandakan bahwa sekolah swasta di Sulawesi Tenggara masih belum mampu mengimbangi daya tampung sekolah negeri.*

 

Penulis: Nyoman Adikusuma

Editor: Lala Lala

 

banner 325x300