Nasional

Ravindra Soroti ‘Bioprospecting’ dalam Pembahasan RUU KSDAHE

249
×

Ravindra Soroti ‘Bioprospecting’ dalam Pembahasan RUU KSDAHE

Share this article
Anggota DPR RI dari Partai Golkar Ravindra Airlangga. Foto: Ist
Anggota DPR RI dari Partai Golkar Ravindra Airlangga. Foto: Ist

G24NEWS.TV, JAKARTA – Anggota Komisi IV DPR RI Ravindra Airlangga menilai bioprospecting dalam RUU KSDAHE sangat penting melihat Indonesia memiliki biodiversitas yang cukup banyak.

Dia mengatakan bioprospecting  perlu untuk diatur ke dalam undang-undang dalam rangka menjaga potensi sumber daya genetik yang berpotensi di Indonesia.

Bioprospecting sendiri merupakan eksplorasi, koleksi, pemelitian dan pemanfaatan sumber daya genetik dan biologi secara sistematis, guna mendapatkan sumber-sumber baru senyawa kimia, gen, organisme dan produk alamiah lainnya untuk tujuan ilmiah dan atau komersial.

“Saya dulu pernah kerja di laboratorium dan banyak material genetik maupun material senyawa aktif yang kita cari buat obat-obatan kita dapatkan dari rainforest dari Brasil atau Indonesia,” ujarnya.

Dia mengatakan dalam proses bioprospecting ini ada inventarisasi, identifikasi, screening terus pengembangan produk lalu pengujian.

“Menurut Bapak apakah ini perlu kita atur untuk ada di undang-undang secara singkat saat ini atau kita tulis harus diatur secara hanya eksklusif diatur dalam peraturan pemerintah? Atau apakah kita perlu misalnya demi dalam rangka menjaga potensi sumber daya genetik kita harus mempertahankan kondisi A atau B atau C seperti itu?” ungkap Ravindra.

Baca Juga  Fraksi Golkar DPR Peroleh Tiga 'MKD Award 2022', Siapa Saja?

Hal tersebut diungkapkan dalam Rapat Dengar Pendapat Komisi IV DPR RI melakukan  dengan para pakar dan akademisi guna membahas dan mendapatkan masukan atas Rancangan Undang-Undang tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (RUU KSDAHE).

Diketahui, RUU tersebut per 8 Agustus 2022 silam, telah ditetapkan menjadi RUU usulan inisiatif DPR RI. RUU KSDAHE ini merupakan revisi dari UU Nomor 5 Tahun 1990, di mana saat ini membutuhkan penyempurnaan dalam rangka untuk mengakomodasi beragam perubahan dalam berbagai kebijakan.

Baik perubahan dalam kewenangan kelembagaan, otonomi daerah, hingga internasional serta mengingat kurangnya partisipasi masyarakat dan lemahnya pengakuan hak masyarakat hukum adat dalam undang-undang tersebut. Salah satu yang dibahas dalam RUU KSDAHE ini adalah mengenai bioprospecting.

Prof. Hadi Sukadi Alikodra dalam paparannya menjelaskan sistem bioprospecting ini bisa menjadi sangat potensial sekali untuk pengembangan ekonomi dan mendukung kegiatan konservasi di Indonesia.

Baca Juga  Panja Bahas DIM RUU ITE Sepakat Dibentuk

Adanya Badan Riset dan Inovasi Nasional dan juga lembaga riset yang ada di perguruan tinggi apabila disatukan juga dapat membantu dalam bioprospecting ini.

“Jadi bioprospecting ini adalah ujungnya bagaimana mengembangkan tumbuhan dan satwa liar yang tidak raw material diekspor, tapi yang akan diekspor adalah informasi-informasi genetik dan kimia. Ini kalau kita bisa, mungkin kalau saya hitung-hitung maka tentunya akan menjadi suatu ekonomi nasional yang luar biasa. Akan tinggi sekali manfaatnya untuk Negara Indonesia,” tuturnya.

Akademisi yang hadir lainnya Prof. Hadi Sukadi Alikodra yang merupakan pakar konservasi alam dan pengelolaan margasatwa dari Institut Pertanian Bogor, Prof. Rinekso Soekmadi pakar konservasi dan manajemen kawasan dari Institut Pertanian Bogor, Prof. Satyawan Pudyatmoko pakar pengelolaan satwa liar dari Universitas Gajah Mada, Prof. Jatna Supriatna dari Universitas Indonesia, Prof. Fredinan Yulianda pakar ilmu manajemen sumberdaya perairan dari Institut Pertanian Bogor, dan Prof. Charlie Danny Heatubun dari Universitas Papua.

Email: DharmaSastronegoro@G24.News
Editor: Lala Lala

 

banner 325x300