HeadlineLifestyle

Perlukah Pekerja Kreatif Khawatir soal Masa Depan Setelah Muncul ChatGPT?

257
×

Perlukah Pekerja Kreatif Khawatir soal Masa Depan Setelah Muncul ChatGPT?

Share this article
chat
chat

G24NEWS.TV, JAKARTA – Beberapa minggu terakhir di media sosial viral oleh tangkapan layar percakapan dengan ChatGPT, iterasi terbaru dari model AI yang dikembangkan oleh firma riset OpenAI. 

Orang-orang menggunakan aplikasi ini untuk berbagai hal, mulai dari memanipulasi foto, membuat musik, menulis naskah, sampai debug kode computer. 

Dalam waktu singkat aplikasi ini diunduh oleh satu juta orang. Perusahaan-perusahaan digital sebelumnya memerlukan waktu yang cukup lama untuk mencapai 1 juta pertama pengunduh.  

Misalnya Netflix memerlukan 3,5 tahun, Facebook 10 bulan, Spotify 5 bulan, Instagram 2,5 bulan, sedangkan ChatGPT hanya memerlukan 5 hari saja untuk diunduh lebih dari 1 juta orang.  

 Apa itu GPT?

Secara singkat, GPT adalah teknologi berdasarkan jenis kecerdasan buatan yang disebut model bahasa. Model ini adalah sistem prediksi menebak apa yang harus ditulis berdasarkan teks yang pernah diproses sebelumnya. 

GPT dibangun dengan menggunakan data yang luar biasa besar untuk melatih AI. Sebagian besar data dipasok dari internet dan ditambah miliaran dolar, termasuk pendanaan awal beberapa miliarder teknologi terkemuka, termasuk Reid Hoffman dan Peter Thiel.

Baca Juga  Golkar Umumkan 1.117 bakal Calon Kepala Daerah di Pilkada Serentak 2024

GPT dilatih tentang percakapan dua arah antar manusia, sehingga bisa membuat dialog yang terdengar manusiawi.

 Aplikasi ChatGPT

ChatGPT adalah produk terbaru dari OpenAi, merupakan chatbot yang lebih bagus dalam membuat teks dibanding pendahulunya. Kita menulis brief tulisan apa yang diinginkan atau mengajukan pertanyaan, maka ChatGPT akan menjawabnya secara natural. Aplikasi ini cukup pintar dalam memahami tugas dan memberikan jawaban. 

Contohnya Matias Nisenson yang meminta dibuatkan draft surel untuk CEO. Matias menambahkan detial seperti tujuan mengajak email, tanggal dan tempat meeting.  ChatGPT memberikan draft surel yang bagus dan terdengar humanis. 

Contoh lain adalah Michael Arcaro yang memberikan pertanyaan kepada ChatGPT. Jawaban yang diberikan ChatGPT sangat tepat, bahkan aplikasi ini juga memberikan alasan kelemahan logika dari cerita Michael Arcaro.

Tentunya teknologi ini punya kelemahan. Secara teoritis, ChatGP dirancang agar tidak melewati garis merah moral, misalnya bersikeras Hitler jahat. Namun, sebagai aplikasi buatan manusia, tidak sulit mengelabui aplikasi berbasis AI ini untuk berbagi saran dan cara melakukan aktivitas jahat, misalnya pengguna menanyakan hal tersebut seperti sedang menulis fiksi. 

Baca Juga  Erwin Aksa: Alumni GI Mesin Penggerak Partai Golkar 

Kemampuannya yang mengesankan dengan segala keterbatasannya memperlihatkan cara kerja mesin ini seperti versi penulisan cerdas. Dengan data pengetahuan yang dijejalkan ke dirinya, ChatGPT seperti menganut prinsip ATM, yaitu Amati, Tiru, dan Modifikasi.

 Kekhawatiran pekerja kreatif

“Kecerdasan” ChatGPT ini membuat khawatir para pekerja kreatif akan masa depan profesi mereka. ChatGPT yang bisa membuat teks dalam bentuk formal, informal, maupun penulisan kreatif. 

Keberadaan aplikasi ini memudahkan para pengusaha membuat sendiri copy untuk produknya tanpa bantuan pekerja kreatif. 

Sebenarnya pekerja kreatif tidak perlu khawatir. Sebab ada hal-hal yang hanya bisa dilakukan pekerja kreatif. Tulisan yang dihasil aplikasi ini tidak punya kekhasan. 

Padahal untuk brand, tulisan yang punya ciri khas ini adalah wajib dan menjadi pembeda dengan competitor. Lalu, ChatGPT kerap misinformasi dan bias, dua hal yang bisa merusak citra brand. Oleh karena itu, untuk saat ini pekerja kreatif tidak usah terlalu khawatir dengan keberadaan aplikasi cerdas ini.

 

banner 325x300