EkonomiLifestyle

Pengembangan Social Commerce hingga Metaverse di Indonesia Menggembirakan

266
×

Pengembangan Social Commerce hingga Metaverse di Indonesia Menggembirakan

Share this article
Pengembangan Social Commerce hingga Metaverse di Indonesia
Pengembangan Social Commerce hingga Metaverse di Indonesia

G24NEWS.TV, JAKARTA –Ketua MPR RI sekaligus Wakil Ketua Umum Partai Golkar Bambang Soesatyo mengapresiasi pengembangan dunia usaha social commerce, metaverse, education, tourism, dan games modules di Indonesia.

Khususnya dalam memasarkan produk halal dari berbagai pelaku UMKM Indonesia ke pasar internasional.

Hal ini menyusul penandatanganan Joint Venture Agreement antara A1 Venture PTE. LTD (Aladdin Group) yang berbasis di Singapura dengan PT BDER Ventures Indonesia, serta PT Sinar Tjili Abadi, untuk mendirikan usaha bersama melalui PT Aladdin Digital Indonesia.

“Kerjasama ini membuktikan bahwa Indonesia memiliki posisi tawar strategis bagi para investor global. Aladdin Group setidaknya telah hadir di 45 negara, dengan 5 miliar konsumen, 1,45 miliar di antaranya merupakan konsumen muslim,” ujar Bambang Soesatyo.

“Bekerjasama dengan PT BDER Ventures Indonesia serta PT Sinar Tjili Abadi, merupakan langkah strategis bagi Aladdin Group untuk semakin menguatkan posisinya di pasar produk halal dunia. Sekaligus memberikan keuntungan bagi Indonesia agar berbagai produk halalnya bisa lebih mendunia,” ujar dia.

Turut hadir antara lain, Direktur Utama A1 Venture PTE. LTD (Aladdin Group) Dato ‘Sri To Kam Foo, Chairman Aladdin Group Zainul Abidin Rasheed, Direktur Utama PT BDER Ventures Indonesia Junaidi Elvis, serta Direktur PT Sinar Tjili Abadi Ramadi.

Baca Juga  Membangun Koneksi Autentik: Panduan Generasi Muda untuk Menjalin Relasi yang Baik

Dia menjelaskan, laporan State of Global Islamic Economy Report (SGIE) 2020/2021 mencatat peran Indonesia dalam tujuh sektor ekonomi syariah dunia sangat kuat.

Misalnya pada sektor makanan halal, dari total USD 1,17 triliun yang dikeluarkan oleh 1,9 miliar penduduk muslim dunia, sebesar USD144 miliar di antaranya berputar di Indonesia.

Dari USD 66 miliar ekonomi syariah pada sektor kosmetika halal, sebesar USD4 miliar di antaranya berputar di Indonesia.

Serta dari sekitar USD 2,88 triliun industri keuangan syariah dunia, sebanyak USD 99,2 miliar diantaranya berputar di industri keuangan syariah Indonesia.

SGIE Report 2020/2021 juga memprediksi pada tahun 2024 tingkat konsumsi pangan halal dunia naik dari USD 1,17 triliun pada 2019 menjadi USD 1,38 triliun.

Konsumsi mode muslim akan meningkat dari USD 277 miliar menjadi USD 311 miliar.

Peningkatan tersebut tidak hanya terjadi di negara-negara mayoritas penduduk muslim seperti Timur Tengah, melainkan juga berbagai negara mayoritas non-muslim lainnya seperti di kawasan Eropa.

Baca Juga  5 Fakta tentang Taman Nasional Serengeti: Petualangan Keajaiban Alam yang Mengagumkan

“Sebab para konsumen non-muslim juga meyakini keberadaan label halal tidak hanya terkait agama, tetapi juga terkait kebersihan dan keamanan sebuah produk,” jelas Bamsoet.

Dia menerangkan, SGIE juga melaporkan pada tahun 2019 lalu tercatat 1,9 miliar muslim di berbagai penjuru dunia membelanjakan USD 2,02 triliun untuk memenuhi kebutuhan mereka terhadap berbagai produk yang sesuai prinsip syariah.

Menunjukan betapa besarnya potensi pasar ekonomi syariah dan produk halal dunia.

“Memajukan penduduk muslim melalui berbagai produk maupun industri berbasis syariah bukanlah untuk memusuhi penduduk agama lain. Melainkan sebagai alternatif jalan keluar atas kondisi dunia yang sudah karut marut akibat terlalu lama dirundung kapitalisme dan liberalisme.

“Wajah dunia tidak boleh lagi didominasi pertentangan antara kaya dengan miskin. Melainkan harus diubah menjadi saling tolong menolong, solidaritas antar manusia yang memberikan kesempatan kepada siapapun mencapai kesejahteraan dan kemakmuran,” pungkas Bamsoet.

Email: DharmaSastronegoro@G24.News
Editor: Lala Lala

banner 325x300