Lingkungan

Nelayan Pulau Rupat Riau Unjuk Rasa Tolak Ekspor Pasir Laut

114
×

Nelayan Pulau Rupat Riau Unjuk Rasa Tolak Ekspor Pasir Laut

Share this article
Puluhan nelayan dari Desa Suka Damai Kecamatan Rupat Utara, Riau melakukan aksi bentang spanduk menolak tambang pasir laut, Senin, 12 Juni 2023. Foto: Walhi
Puluhan nelayan dari Desa Suka Damai Kecamatan Rupat Utara, Riau melakukan aksi bentang spanduk menolak tambang pasir laut, Senin, 12 Juni 2023. Foto: Walhi

G24NEWS.TV, JAKARTA – Puluhan nelayan dari Desa Suka Damai Kecamatan Rupat Utara, Provinsi Riau yang mayoritasnya Suku Akit melakukan aksi bentang spanduk untuk menyuarakan tuntutan penyelamatan Pulau Rupat dari ancaman tambang pasir laut, Senin, 12 Juni 2023.

Aksi yang dilaksanakan di sekitar Beting Aceh dan Pulau Babi, Rupat Utara ini merespon diterbitkannya Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2023 yang memberikan ruang untuk menambang pasir laut dengan dalih sedimentasi.

Nelayan Rupat juga menyerukan agar Gubernur Riau segera mengambil keputusan untuk mencabut Izin Usaha Pertambangan (IUP) PT Logomas Utama.

Beberapa tulisan yang dibentangkan oleh para nelayan.

Antara lain, selamatkan Pulau Rupat, Cabut IUP PT Logomas Utama.

Cabut PP Nomor 26 Tahun 2023, lindungi wilayah tangkap nelayan, laut bukan ruang tambang, dan #saverupat.

Baca Juga  Gini Nih Caranya! 6 Gerakan Anti-Plastik ala Anak Muda

Kempang, salah satu nelayan dari Dusun Simpur, membeberkan alasan mereka membentangkan beberapa spanduk tersebut.

“Kami sebagai nelayan tradisional sangat menolak kehadiran tambang pasir laut karena dampaknya yang merugikan nelayan dan masyarakat Rupat secara umum,” tutur Kempang, seperti dilansir dari laman resmi Walhi, dikutip Senin (19/6/2023).

Tolak Tambang Pasir

Andre, nelayan dari Dusun Suling, juga menyatakan keberatannya terhadap keberadaan tambang pasir laut di wilayahnya.

Menurutnya, kehadiran PT Logomas Utama di perairan Rupat Utara sangat meresahkan.

“Aktivitas penyedotan pasir laut yang mereka lakukan dalam waktu beberapa bulan saja telah membuat hasil tangkap nelayan turun drastis”.

“Apalagi jika mereka terus beroperasi hingga beberapa tahun nanti. Sudah pasti ikan habis, pulau kami pun rusak dan tenggelam,” ujar Andre.

Baca Juga  Christina Aryani Kutuk Pelaku Pembunuhan Aktivis Perempuan di Papua

Aksi bentang spanduk dilakukan nelayan di sekitar Beting Aceh, yang berjarak sekitar 2 km dari Pulau Rupat bagian utara.

Di sekitar Beting Aceh terdapat Beting Tinggi yang sempat hilang ketika PT Logomas Utama beraktivitas menyedot pasir laut.

Aksi ini bertujuan untuk mengingatkan pemerintah bahwa baik Beting Aceh, Beting Tinggi, Beting Tiga, dan beting-beting lainnya adalah ekosistem penting yang harus dijaga dan tidak boleh ditambang.

Hal ini penting dilakukan sehubungan dengan langkah Presiden yang mengeluarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 26 Tahun 2023 tentang Pengelolaan Hasil Sedimentasi di Laut.

Email: Nyomanadikusuma@G24 News

Editor: Lala Lala

banner 325x300