Lifestyle

Muhammadiyah: Awal Puasa Ramadhan 1444 Jatuh pada 23 Maret 2023

225
×

Muhammadiyah: Awal Puasa Ramadhan 1444 Jatuh pada 23 Maret 2023

Share this article
gambar masjid siluet
Niat Puasa Ramadhan dan waktu yang tepat membaca

G24NEWS.TV, JAKARTA – Pimpinan Pusat Muhammadiyah menetapkan awal puasa atau 1 Ramadhan 1444 hijriah jatuh pada 23 Maret 2023, sedangkan 1 Syawal 1444 hijriah atau Hari Raya Idul Fitri akan jatuh pada 21 April 2023. 

Perhitungan tersebut disampaikan oleh Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah berdasarkan hisab hakiki wujudul hilal.

“Umur Sya’ban 1444 Hijriah 30 hari dan tanggal 1 atau awal Ramadhan jatuh pada Kamis Pon, 23 Maret 2023 Masehi.” 

Surat penetapan dari Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah tertanggal 23 Desember 2022 itu ditandatangani oleh Wakil Ketua Oman Fathurahman dan Sekretaris Mohammad Mas’udi.

Dengan demikian, warga persyarikatan Muhammadiyah akan memasuki awal puasa Ramadhan mulai 23 Maret 2023 dan mendirikan salat tarawih pertama pada sehari sebelumnya, Rabu, 22 Maret 2023.

Pakar astronomi dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Thomas Djamaluddin mengatakan ada potensi perbedaan penetapan Hari Raya Idul Fitri tahun ini. 

Perbedaan ini muncul bukan karena penerapan metode hisab dan rukyat dari masing-masing organisasi massa Islam dan pemerintah, namun karena perbedaan kriteria.

Baca Juga  Eksplorasi Kuliner Yunani: Rekomendasi Makanan Khas yang Wajib Dicoba

“Muhammadiyah dengan kriteria wujudul hilal yaitu 21 April 2023. Pemerintah dan beberapa ormas Islam, seperti NU dan Persis (Persatuan Islam), dengan kriteria imkan rukyat (visibilitas hilal) yaitu 22 April 2023,” kata Thomas Djamaluddin.

Keputusan Awal Puasa Muhammadiyah
Keputusan Majelis Tarjih PP Muhammadiyah tentang awal puasa. (Muhammadiyah)

 

Awal Puasa Sama, Lebaran Bisa Beda

Namun untuk awal puasa, umat Islam di Indonesia akan cenderung sama menetapkannya, yaitu 1 Ramadhan 1444 Hijriyah cenderung sama yakni jatuh pada 23 Maret 2023.

Thomas Djamaluddin berpandangan ada solusi untuk menyikapi potensi perbedaan Hari Raya Idul Fitri 1444 H atau tahun 2023 yakni dengan mendorong munculnya kesepakatan kriteria dan otoritas, antara pemerintah dan ormas-ormas Islam.

Kesepakatan penggunaan kriteria adalah dengan menerapkan kriteria MABIMS (Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura), dikutip dari media. 

Keempat negara itu serta beberapa organisasi keagamaan Islam yakni Nahdlatul Ulama (NU) dan Persis sudah sepakat dengan kriteria MABIMS. Thomas Djamaluddin menjelaskan kriteria MABIMS adalah tinggi bulan minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat.

Baca Juga  Dapur yang Dahsyat: Menapaki Jejak Profesi Chef di Dunia Kuliner

Lantas, Thomas Djamaluddin memaparkan enam faktor mengapa kriteria MABIMS perlu diterima dalam menetapkan awal bulan Hijriyah.

Pertama, kriteria MABIMS berdasarkan data rukyat atau pengamatan global jangka panjang. Kedua, kriteria MABIMS menggunakan parameter yang biasa diterapkan oleh para ahli hisab Indonesia yaitu ketinggian hilal dan elongasi (jarak sudut bulan-matahari).

“(Ketiga), parameter yang digunakan menjelaskan aspek fisis rukyatul hilal. Elongasi menggambarkan ketebalan fisis hilal. Semakin besar nilai elongasi, berarti hilal semakin tebal,” ujar Thomas Djamaluddin.

Keempat, kriteria MABIMS menetapkan ketinggian minimal 3 derajat yang berdasarkan data global. Kelima, elongasi minimal 6,4 derajat berdasarkan pada rekor bulan terdekat sebagaimana laporan dalam makalah Mohammad Shawkat Odeh, tokoh falak internasional.

“Elongasi yang kurang dari 6,4 derajat terlalu tipis dan redup untuk mengalahkan cahaya senja,” kata Thomas.

Terakhir, keenam, kriteria MABIMS dibangun dengan data rukyat kemudian dianalisis secara hisab.  Hal itu, menurut dia, merupakan titik temu bagi pengguna metode rukyat seperti NU dan pengguna metode hisab seperti Muhammadiyah.

banner 325x300