DaerahHeadline

Mengenang Banser Riyanto, Pahlawan Toleransi dari Mojokerto

709
×

Mengenang Banser Riyanto, Pahlawan Toleransi dari Mojokerto

Share this article
riyanto
riyanto

*Imam Mudofar, Alumni Golkar Institute Batch 9.

G24NEWS.TV, JAKARTA — Setiap perayaan Natal, ingatan kita terbang pada sosok Riyanto, anggota Banser asal Mojokerto, Jawa Timur yang gugur sebagai pahlawan toleransi dan keberagaman.

“Riyanto”, sebuah nama khas Indonesia, Jawa lebih tepatnya. Ayahnya bernama Sukarmin. Ibunya bernama Ngatiem. Beragama Islam meski namanya tidak keArab-araban.

Riyanto yang lahir di Kediri, 23 November 1975. Meski berasal dari keluarga sederhana, Riyanto yang tinggal di Mojokerto bersama keluarganya itu telah membuktikan wujud pengabdiannya pada kemanusiaan di Indonesia; sebuah negara yang terdiri dari banyak perbedaan ras, agama, suku dan golongan.

22 tahun lalu, tepatnya di malam Misa Natal tahun 2000, sebuah kisah pilu menjadi catatan sejarah di mana Riyanto menghembuskan nafas terakhirnya. Anggota BANSER (Barisan Ansor Serbaguna) Nahdlatul Ulama ini didaulat turut serta mengamankan malam perayaan Natal di Gereja Eben Haezer Mojokerto.

Baca Juga  Masjid Lautze, Pusat Pembauran Islam dan Tionghoa di Jakarta  

Awalnya Misa yang berlangsung di gereja tersebut berjalan lancar. Tiba-tiba saja jemaat gereja melihat bungkusan mencurigakan. Riyanto yang kebetulan berada di dalam lantas menghampiri dan membuka isi bungkusan itu. Ternyata berisi bom rakitan.

Tanpa basa basi. Didekapnya bom rakitan itu. Riyanto berlari sekuat tenaga. Mengeluarkan bom dari gereja. Barangkali saat itu, Rianto hanya berpikir jika bom meledak di dalam gereja, tentu banyak korban berjatuhan.

Tak ingin banyak jatuh korban, Riyanto terus berlari tanpa peduli nyawanya dalam ancaman. Meski Riyanto sadar, sebagai anggota BANSER, dirinya hanya diberi ijazah agar tidak kebal dibacok. Bukan dibom. Tapi baginya, dari pada jatuh banyak korban, lebih baik dia yang luluh lantah demi kemanusiaan.

Baca Juga  Kapolri Tinjau Kesiapan Natal Sejumlah Gereja di Jakarta

Benar saja. Bom rakitan yang didekapnya meledak di luar gereja. Tubuh Rianto mental dengan kondisi yang tak bisa digambarkan. Anak tukang becak yang saat itu baru berusia 25 tahun berhasil menyelamatkan sekian banyak nyawa meski dirinya harus tutup usia di medan laga. Meski berbeda agama, bagi Rianto jemaat Gereja Eben Haezer Mojokerto adalah saudara sebangsa dan setanah air Indonesia yang patut ia jaga.

Riyanto telah menunjukkan nasionalismenya, buah dari kecintaan terhadap tanah airnya. Riyanto telah menyempurnakan keimanannya sebagaimana sabda yang diyakininya; “Hubbul Wathon Minal Iman. Cinta tanah air sebagian dari Iman.” Riyanto telah mengajarkan bagaimana sejatinya beragama dengan mengedepankan kemanusiaan.

 

banner 325x300