HeadlineLifestyleNasional

[IN-DEPTH]: Menelisik “Gender Gap” dalam Humor, Masih Kentalkah Budaya Patriarki?

311
×

[IN-DEPTH]: Menelisik “Gender Gap” dalam Humor, Masih Kentalkah Budaya Patriarki?

Share this article
Image Credit: Narasi - Sakdiyah Ma’ruf Komedian Perempuan Indonesia.
Image Credit: Narasi - Sakdiyah Ma’ruf Komedian Perempuan Indonesia.

York – Dunia tidak memudahkan perempuan untuk membuat lelucon hal ini terlihat dari beberapa orang yang masih menganggap wanita tidak lucu, menunjukkan adanya “gender gap” atau “kesenjangan gender” dalam hal humor. “Women are not funny” ini sudah menjadi gambaran yang ada di dunia saat ini.

Mengapa Tercipta Anggapan Tersebut?

Ada banyak alasan yang turut berkontribusi hingga akhirnya tercipta gender gap tersebut salah satunya adalah ada bias misoginis dalam apa yang perempuan anggap “lucu”, serta skrip budaya yang mendorong humor pada pria tetapi tidak pada perempuan.

“Pandangan bahwa wanita kurang lucu begitu menyebar sehingga kekuatan sosial membuat perempuan enggan mengembangkan dan mengekspresikan humor mereka, membuat perempuan cenderung tidak dianggap lucu,” kata Gil Greengross, penulis salah satu analisis dari lebih dari dua lusin penelitian yang menyimpulkan bahwa pria lebih lucu daripada perempuan.

Berdasarkan analisis yang berhasil mengamati responden dalam 28 studi tentang “kemampuan produksi humor” dan menemukan bahwa sekitar 63% orang dari perempuan dan pria, menilai bahwa pria lebih berpotensi untuk tertawa daripada rata-rata perempuan. Ada banyak alasan untuk bersikap skeptis tentang adanya celah humor, mulai dari bias misoginis naskah budaya yang mendorong humor pada pria tetapi tidak pada perempuan.

“Pandangan bahwa perempuan kurang lucu begitu meluas sehingga kekuatan masyarakat membuat perempuan enggan mengembangkan dan mengekspresikan humor mereka, membuat perempuan cenderung tidak dianggap lucu” ungkap Gil Greengross, dari penulis analisis tersebut.

Studi serupa dari tahun 2016 menemukan celah humor menjadi stereotip yang memuaskan diri sendiri, dengan subjek menganggap lelucon lucu ditulis oleh pria dan yang paling tidak lucu oleh perempuan.

Dikutip dari media Vox, perempuan berkontribusi pada kesan bahwa mereka kurang lucu ketika mereka merasa dipaksa untuk meredam humor mereka, agar sesuai dengan ekspektasi budaya.

Misalnya, di tempat kerja beberapa penelitian menunjukkan bahwa pria mendapat manfaat dari penggunaan humor mereka, tetapi perempuan sebenarnya dirugikan olehnya. Perempuan harus belajar untuk menilai audiens mereka dan membuat keputusan tentang apakah lelucon akan membantu atau menyakiti mereka dalam situasi tertentu.

Baca Juga  Pulang Kampung, Puluhan Ribu Warga Sulawesi Utara Sambut Prabowo

Tanggapan Komedian Perempuan di Indonesia

The first stand-up comedian di Indonesia, Sakdiyah Ma’ruf, pernah menyampaikan bahwa ruang perempuan untuk eksplorasi materi humor yang dibawakan dalam stand up comedy sering dikotak-kotakan.

”Sejak awal core issue yang saya minati itu isu perempuan, komika perempuan semenjak 10 tahun lebih di Indonesia sampai hari ini sangat dikenal, karena masih bisa dihitung jari, saking sedikitnya komika perempuan di Indonesia” ungkap Sakdiyah dalam wawancara dengan Najwa Shihab di Mata Najwa (11/22).

Menurut Sakdiyah terdapat gender gap antara komika laki-laki dan perempuan ketika para komika perempuan ingin mengungkapkan aspirasi atau keresahannya yang cenderung masih dianggap tabu oleh masyarakat.

“Sebenarnya women are not funny itu dikenal diseluruh dunia, karena sering sekali dikenal terlalu emosional dan dianggap terlalu vulgar ketika membahas soal, misalnya pengalaman relationship, tubuh, dan sebagainya. Sehingga di stigma perempuan tidak lucu, perempuan itu diposisikan di sastra itu dengan ‘tersenyum’ atau ‘tersungging’ kalau terbahak-bahak itu perempuan dianggap seperti nenek sihir”, tuturnya.

Padahal komedi itu punya power yang sangat besar, si pembawa materi humor punya power itu untuk menyampaikan tema-tema penting terutama aspirasi perempuan. Hal ini yang kerap menjadi tantangan bagi komika perempuan.

“Tantangan komika perempuan ada dua, yaitu sensorship dan safe space. Sensorship, saya sendiri sering mengalami itu, saat ingin tampil disalah satu stasiun televisi saya ingin membawakan materi tentang menstruasi. Tapi ternyata, di televisi tidak boleh bicara mengenai menstruasi. Padahal ini yang mau saya bawakan itu poinnya, karena sering dianggap tabu, ini berangkat dari keresahan saya mengenai stigma ini”,

“Dengan sensor tersebut, pengalam perempuan itu dianggap tabu aib dan memalukan bahkan dianggap tidak ada sehingga tidak bisa dibicarakan di publik. Sudah sebegitu sempit perempuan bisa berbicara depan publik dengan tidak vulgar,” sambungnya.

Menurutnya ruang komedi bisa menjadi ruang bicara untuk memfasilitasi isu perempuan bahkan membahas hal-hal sensitif seperti kekerasan dalam rumah tangga yang dirasakan oleh perempuan.

“Kurangnya safe space dimana tidak banyak bergaul atau open mic karena biasanya acara ini digelar hingga larut malam, perempuan jarang bisa punya kesempatan ini (untuk pulang larut malam). Karena kondisi malam hari untuk perempuan terkait waktu masih menjadi batasan” tambahnya.

Baca Juga  KPU Surati Parpol Soal Pendaftaran Bacaleg Pemilu 2024

Pelecehan dan ancaman juga kerap diterima oleh Sakdiyah, namun dukungan juga banyak diterima terutama dari aktivis perempuan yang sering mengundang dan memberikan ruang untuknya membawa isu-isu perempuan khususnya untuk dibicarakan di ruang publik melalui humor, stand-up comedy nya.

“Komika perempuan itu seolah-olah harus bisa menerima segala bentuk candaan, kalau tidak menerima dibilang tidak punya selera humor. Gaya berpakaian juga kerap menjadi sorotan” kata Sakdiyah.

Mengancam Freedom of Expression Bagi Perempuan, Bagaimana Cara untuk Menanggulanginya?

Menurut Sakdiyah, berdasarkan pengalamannya perlu kerjasama dari dua belah pihak baik itu dari komika ataupun masyarakat.

“Butuh kedua belah pihak dalam menghadapi tantangan ini, komika perlu berlatih humility, dan general public belajar untuk tidak mudah bersikap canceling, dipelajari titik-titik dialog dan edukasinya”

“Saya merasa punya aspirasi (sebagai perempuan yang berasal dari keluarga Arab), sering menyaksikan perempuan yang menikah di usia SMP, saya merasa I have to say something, membawa saya menjadi aktivis dan perjalanan berikutnya try to connecting the dots, bahwa hal-hal sensitif ini bisa dibicarakan di ruang komedi, it suits me, bisa dibicarakan secara konseptual, saya punya ruang untuk membicarakan keresahan saya melalui ruang komedi”, sambungnya.

Seperti yang dikutip dari Vox sebelumnya, kondisi budaya masyarakat menjadi salah satu tantangan. Humor yang dilontarkan komedian laki-laki jika berbentuk sexist cenderung masih bisa ditertawakan oleh audience, tapi perempuan sering dianggap tidak pantas padahal yang dibicarakan isu pelecehan perempuan. Ini menjadi tantangan bagi para perempuan tersendiri.

“Lawannya freedom of expression, adalah bukan hanya tirani tapi juga self sensorship. Itu sangat menggerogoti sehingga kita bisa kehilangan suara kita, yang bisa menjadikan kita kehilangan tujuan, orientasi, dan self-worth”

“Secara personal yang saat ini bisa dilakukan adalah tetap berkarya bagaimanapun caranya, untuk menyampaikan keresahan dan aspirasi saya as a female comedian harus bisa dipertahankan” ungkap Sakdiyah.

 

banner 325x300