Nasional

[KOLOM] Koalisi Kapal Nabi Nuh

286
×

[KOLOM] Koalisi Kapal Nabi Nuh

Share this article
Presiden Joko Widodo bersama dengan Airlangga Hartarto, Prabowo Subianto, Muhaimin Iskandar, Zulkifli Hasan
Presiden Joko Widodo bersama dengan Airlangga Hartarto, Prabowo Subianto, Muhaimin Iskandar, Zulkifli Hasan

Oleh : Indra J Piliang, Pengurus Partai Golkar DKI Jakarta, Ketua Umum Perhimpunan Sang Gerilyawan Nusantara

SILATURAHMI Ramadhan yang dihelat Hari Minggu (2 April 2023) kemaren layak dilihat sebagai “Rapat Resmi” Pertama dari lima Ketua Umum partai politik: Partai Golkar, Partai Gerindra, PKB, PAN, dan PPP. 

Kenapa rapat? Mengingat agenda silaturahmi digelar siang hari, bukan jelang atau setelah berbuka puasa. Ruangan khusus juga tersedia. Rapat diadakan tertutup, dalam arti tidak diliput oleh pers, sekalipun peserta rapat terbuka, dapat dilihat oleh pers. Satu partai politik yang turut diundang, yakni PDI Perjuangan, tidak hadir. Kebetulan, Megawati Soekarnoputri bersama sejumlah pengurus PDIP Perjuangan sedang berada di Jepang.

Keenam partai politik ini memiliki kursi di DPR RI, pun kursi menteri di kabinet. Sekalipun tidak lagi dikenal sebutan “pembina seluruh partai politik”. 

Presiden Jokowi hadir. Tidak banyak yang disampaikan Jokowi. Justru yang bicara adalah Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto yang menyebut mereka adalah “Timnya Jokowi”. 

Sementara Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto menguraikan sisi penting dari Koalisi Besar guna menghadapi pelbagai persoalan geopolitik global, benua Asia, kawasan ASEAN, pun guncangan-guncangan ekonomi dari luar dan dalam negeri yang masih akan dihadapi. Komitmen dan kesepakatan yang diraih terasa kuat, yakni memastikan keseluruhan legacy atau capaian yang sudah dijalankan oleh pemerintahan Jokowi dipastikan untuk diteruskan, tidak dibengkalaikan.

Pandemi Covid 19 memang sudah mengubah banyak hal. Jika merujuk kepada Nawacita ataupun Visi Misi Jokowi – KH Ma’ruf Amin yang diserahkan kepada KPU, tentulah banyak catatan negatif apabila dibuat dalam bentuk matrikulasi. 

Covid 19 telah menjadi turbulensi global yang mengaduk-aduk banyak negara hingga koyak-moyak. Perang yang dilancarkan Rusia terhadap Ukraina menambah deretan negara tergelincir ke ceruk negara paria. 

Gelombang demonstrasi bukan saja terjadi di negara-negara seperti Banglades, tetapi kini menjadi pemandangan keseharian di Prancis dan Israel, misalnya. 

Perubahan konstitusi terjadi, misalnya di China yang mengizinkan Presiden menjabat lebih dari dua periode, begitu juga peraturan perundang-undangan, kebijakan, dan prioritas program. Hubungan bilateral dan multilateral sejumlah negara berubah total.

Bagaikan energi kuantum, Covid 19 dan Perang Rusia – Ukraina ternyata tidak membuat Indonesia menjadi remuk. Perlahan, kekuatan ekonomi Indonesia naik ke posisi tujuh besar, jika dihitung dari sisi gross domestic product

Di atas Indonesia masih terdapat negara China, Amerika Serikat, India, Jepang, Jerman, dan Russia. Brazil, Inggris, Perancis, Turki dan Italia, sudah berada di bawah Indonesia. 

Negara pada garis khatulistiwa yang baru 22 tahun lagi berusia 1 abad ini, ternyata tak tumbang, dibandingkan dengan negara-negara merkantilis yang sejak berabad lampau sudah menguasai negara-negara lain di benua Asia, Afrika, dan Amerika. 

Sebagai negara pasca-kolonial yang sangat kuat dari sisi nasionalisme, Indonesia mampu bersaing dengan negara-negara Dunia Pertama dan Dunia Kedua. Sebutan sebagai negara Dunia Ketiga semakin tak banyak lagi disebut.

Sang Dirigen

Ibarat orkestra, segala macam capaian itu tentulah belum kokoh, kuat, dan kental. Masih banyak kekurangan, kelemahan, dan kekacauan di sana sini. Sehingga, dibutuhkan seseorang yang berfungsi sebagai Sang Dirigen. 

Biasanya, tugas itu diberikan kepada seseorang yang sudah berpengalaman. Maestro di bidangnya. Kehadiran Jokowi dalam Rapat Pertama kelima sosoh ketua umum partai politik itu adalah bagian dari tugas seorang dirigen. 

Sosok yang mencocok-cocokan bunyi antara gitar, seruling, talempong, gamelan, bahkan tifa yang muncul dalam orkestrasi koalisi.

Baca Juga  Strategi Bawaslu Tangkal Berita Bohong

Jokowi sudah menunjukkan itu dengan sangat baik. Contoh yang paling piawai adalah sama sekali tak melakukan reshuffle terhadap menteri-menteri dari Partai Nasdem. 

Bagaimanapun, hubungan emosional Ketua Umum Partai Golkar dan Ketua Umum Partai Gerindra dengan Ketua Umum Partai Nasdem sangatlah kuat. Ikrar kesetiakawanan sudah terbentuk dalam doktrin dan ideologi Partai Golkar, sebagai almamater dari ketiganya. 

Jokowi sama sekali tak masuk ke dalam praksis politik, termasuk bangunan koalisi yang dibentuk masing-masing partai politik. Jasa besar Partai Nasdem dalam mengusung dan memenangkan Jokowi untuk periode kedua, tak bakal mudah dilupakan begitu saja.

Fungsi Dirigen yang diperankan Jokowi, lebih banyak mengarah kepada infrastruktur politik, ketimbang suprastruktur politik. Yakni, program apa yang menjadi prioritas dari masing-masing partai politik.

Kepastian kesinambungan program kerja selama dua periode yang dijalankan Jokowi dalam pemerintahan berikutnya, jauh lebih penting ketimbang masuk kepada politik praktis berupa koalisi pragmatis partai politik yang dibentuk, serta nama-nama calon presiden dan calon wakil presiden yang hendak diusung.

Legacy yang super prioritas adalah realisasi Ibu Kota Nusantara. Perpindahan ibukota negara dari Jakarta ini bakal makan biaya, tenaga, waktu, dan kerja politik dan pemerintahan yang besar, kuat, lama, dan trengginas. 

Butuh waktu lima sampai dua puluh tahun agar Ibu Kota Nusantara bisa berfungsi secara maksimal. Pemerintahan berikut wajib benar-benar menghitung dengan rinci, menyusun road map, menghadirkan visualisasi dalam peta yang muncul di google map, sampai sosialisasi maksimal ke kalangan generasi nanti. 

Setiap warga negara Indonesia, apalagi yang berkepentingan dengan Ibu Kota Nusantara, sudah bisa membayangkan Ibu Kota Negara seperti apa yang nanti hadir, pada saat Indonesia mencapai usia 100 tahun, yakni tahun 2045.

Tanggal 17 Agustus 2045 layak dijadikan sebagai DDay, manakala banyak lembaga keuangan internasional menyebutkan betapa Indonesia berada pada nomor urut empat negara paling sejahtera di muka bumi, di bawah China, India, dan Amerika Serikat. 

Jikalah rancang bangun ini kandas dan digantikan dengan batu-bata yang lain oleh pemerintahan berikutnya, bom waktu malapetaka demi malapetaka bakal terus menerus hadir. Satu jalan raya atau kompleks olahraga saja terbengkalai, merusak banyak hal, apalagi satu lokasi yang sudah didedahkan kepada seluruh penjuru dunia sehebat Ibu Kota Negara yang baru.

Seorang dirigen sangat mengetahui, dimana puncak atau titik klimaks dari orkestrasi yang tengah dimainkan. Horison pikiran dirigen inilah yang nanti ditransformasikan kepada Koalisi Besar Partai Politik yang sedang berbentuk ini. 

Horison yang menjadi titik tuju dan titik tunjuk. Nantinya, horison itu berubah menjadi titik koordinat dalam teropong yang berada di tangan Nahkoda Baru Republik Indonesia. Titik koordinat yang bisa diraih, sekalipun bakal menghadapi taufan, lanun, bajak laut, hingga musuh-musuh lain berupa manusia dan kapal asing yang mencoba menggagalkan perjalanan Kapal Garuda Nusantara.

Kisah Nabi Nuh dengan perahunya sudah menunjukkan bagaimana kegigihannya dalam menyelamatkan umat manusia, hewan, dan tumbuhan. Butuh tak hanya sekadar kapal, tetapi juga sumberdaya manusia yang handal dalam menghadapi banjir besar akibat terjangan tsunami raksasa. 

Tidak disebutkan dalam kitab-kitab suci, darimana asal muasal banjir besar itu. Film Noah yang rilis tahun 2014, malahan ditolak oleh semua agama samawi, yakni Kristen, Yahudi, dan Islam. Air seolah muncrat dari perut bumi. Saya lebih percaya teori tsunami, atau bisa juga tumbukan dari meteor yang menghantam lautan di belahan dunia lain.

Baca Juga  Pengamat Politik: Airlangga Hartarto Berpeluang Pimpin Koalisi Besar di Pemerintahan Prabowo-Gibran

Dan pernah juga, dalam sebuah WAG yang berisi mantan-mantan aktivis Kelompok Studi Mahasiswa Universitas Indonesia, disebutkan betapa Kapal Nabi Nuh itu tertanam di perut bumi Kalimantan, jika menggunakan pantauan satelit. 

Begitu juga fakta betapa Kalimantan jarang sekali didatangi gempa bumi, serta menjadi salah satu temuan paling menarik dari sisi kekayaan flora dan fauna, serta garis tektonik bumi. 

Istilah Garis Wallace dicetuskan oleh Alfred Russel Wallace untuk menyebut perbedaan flora dan fauna yang terletak di Borneo dan Sulawesi. Bisa jadi, flora dan fauna itu berlompatan dari atas kapal Nabi Nuh yang “terdampar” di Borneo itu.

Yang jelas, saya meyakini bahwa enam partai politik yang kini mulai masuk Kapal Garuda Nusantara, tidak bakal mudah melompat. Tinggal sauh, nyolong sekoci. Perebutan di area anjungan kapal tentang siapa yang menjadi Nahkoda, siapa yang menjadi Mualim 1, Mualim 2, hingga berikutnya, juga sama sekali tak menjadi kekhawatiran saya. 

Dengan menyamakan visi, misi, platform, program, dan agenda, jelaslah Kapal Garuda Nusantara lebih memerlukan kerjasama dan kerja bersama, alias gotong royong, sebagai Ekasila yang diperkenalkan oleh Ir Sukarno. Ekasila kegotongroyonganlah yang lebih dibutuhkan, dibanding akuisme, keakuan, atau individualisme.

Trisakti, Trilogi, dan Queen Maker

Trisakti Soekarno dan Trilogi Soeharto bisa bergandengan tangan di atas Kapal Garuda Nusantara. Trisakti: berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi, dan berkepribadian di bidang budaya. 

Trilogi: pemerataan hasil-hasil pembangunan, pertumbuhan ekonomi tinggi, dan stabilitas nasional yang sehat. Apalagi dengan politik garis tengah yang mulai dianut oleh keenam partai-partai politik, kian menyingkirkan ekstremitas kiri dan kanan. Politik identitas (stereotipe) kian dihindari, apalagi dalam pilihan komunikasi kalangan petinggi politik dan pemerintahan.

Berdamai dengan masa lalu adalah misi penting buat menang di masa depan. Banyak negara menstabilo dengan tinta hitam masa lalunya. Jepang sudah berdekade lalu tak memasukkan masa Gerakan Tiga A: Nippon Pelindung Asia, Nippon Pemimpin Asia, dan Nippon Cahaya Asia di dalam buku-buku sejarah resminya. 

Banyak pemimpin negara-negara yang melakukan penjajahan di masa lalu berlutut dan memohonkan maaf dan ampun atas masa lalu (kepemimpinan) di negara mereka. Sebagian membayarkan kompensasi.

Lima Ketua Umum partai politik yang diaransemeni oleh Jokowi kini sedang menggiring bola soliditas itu ke tangga dan tanggal berikutnya. Sebelum berangkat ke Jepang – saya mengetahui perjalanan itu lewat chat dengan Charles Honoris yang menjadi Tim Advance – Ketua Umum PDIP Perjuangan Megawati Soekarnoputri sudah bersua dengan Presiden Jokowi selama tiga jam. 

Ibu Mega juga sudah menyampaikan berulang kali tentang Bulan Bung Karno, Juni, dan stadion Gelora Bung Karno. Itu artinya, bisa jadi Rapat Kedua bakal dihelat bulan Mei, dan Rapat Ketiga bulan Juni. Megawati Sukarnoputri bakal menjadi the Queen Maker mengantarkan Kapal Garuda Nusantara melaju, plus dengan bakal calon Nahkoda dan Wakil Nahkoda.

Soal nama yang bakal diusung, ada dalam lubuk hati dan pikiran saya. Biarlah, tersimpan dulu. Yang jelas, semangatnya jelas kesana. Tidak ke arah perpecahan, tetapi persatuan dan kesatuan di kalangan para pemimpin bangsa…

Griya Kemayoran, Markas Sang Gerilyawan Nusantara, 04/04/2023

 

 

banner 325x300