Nasional

KOLOM: Golkar Institute dan Upaya Menjaga Peradaban Politik Intelektual

206
×

KOLOM: Golkar Institute dan Upaya Menjaga Peradaban Politik Intelektual

Share this article
Golkar Institute dan Upaya Menjaga Peradaban Politik Intelektual
Golkar Institute dan Upaya Menjaga Peradaban Politik Intelektual

Oleh Imam Mudofar, S.Hum, Alumni Golkar Institute Batch 9

G24NEWS.TV, JAKARTA — Sejatinya politik lahir sebagai sebuah ilmu. Meski sempat terjadi perdebatan ilmuwan berkaitan apakah politik itu bisa masuk dalam sebuah disiplin ilmu (since) atau tidak.

Pemikiran mengenai politik (politics) di dunia Barat banyak dipengaruhi oleh filsuf Yunani Kuno abad ke-5 S.M. Filsuf seperti Plato dan Aristoteles menganggap politik sebagai suatu usaha untuk mencapai masyarakat politik (polity) yang terbaik.

Di dalam polity semacam itu manusia akan hidup bahagia karena memiliki peluang untuk mengembangkan bakat, bergaul dengan rasa kemasyarakatan yang akrab, dan hidup dalam suasana moralitas yang tinggi. Pandangan normatif ini berlangsung sampai abad ke-19.

Pada era modern, Prof. Miriam Budiarjo dalam bukunya Dasar-Dasar Ilmu Politik membuat satu kesimpulan bahwa politik dalam suatu negara (state) berkaitan dengan masalah kekuasaan (power), pengambilan keputusan (decision making), kebijakan publik (public policy), dan alokasi atau distribusi (allocation or distribution).

Jika kita meyakini politik sebagai sebuah ilmu, maka sudah barang tentu politik harus diisi oleh orang-orang yang memiliki wawasan keilmuan (intelektual). Pasalnya politik adalah sebuah disiplin ilmu yang berkaitan dengan manusia dalam sebuah negara yang berkaitan dengan kekuasaan, pengambilan keputusan, kebijakan publik dan alokasi/distribusi.

Bayangkan saja jika dalam sebuah negara, sistem politiknya dihuni oleh orang-orang yang tidak memiliki intelektualitas. Lantas bagaimana nasib manusia dalam negara itu? Dalam percaturan politik Indonesia, Golkar adalah partai politik yang memiliki komitmen kuat untuk membangun sebuah peradaban politik intelektual. Hal itu sudah berlangsung sejak partai ini didirikan dengan semangat gotong royong lima puluh delapan tahun silam.

Baca Juga  Hari ini Partai Golkar Umumkan Status Anggota Ridwan Kamil di Kantor DPP  
Golkar Institute
Golkar Institute

Salah satu bukti komitmen atas peradaban politik intelektual itu masih bisa kita lihat sampai dengan hari ini. Rasanya tidak sulit untuk mencari politisi di Partai Golkar yang bergelar doktor bahkan sampai profesor yang memiliki keahlian di bidang keilmuannya masing-masing.

Dalam perjalannya, upaya untuk menjaga komitmen itu terus dilakukan. Terobosan-terobosan dalam kerangka menjaga ritme politik intelektual itu terus dihadirkan.

Hasilnya, sejak tahun 2020 lalu, berdirilah sebuah lembaga di bawah naungan Partai Golkar yang kemudian diberi nama Golkar Institute. Sebuah lembaga dengan fokus utama pembelajaran bagi generasi muda Indonesia yang betul-betul ingin belajar tentang pemerintahan dan kebijakan publik. Bahkan menjadi sekolah politik satu-satunya yang di Indonesia yang didirikan langsung oleh partai politik.

Sebelum membahas lebih jauh tentang Golkar Institute, saya ingin mengutip sabda Baginda Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Bukhari. “Jika sebuah urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancurannya.” (HR. Bukhori).

Hampir semua ulama yang menafsirkan hadist itu sepakat jika kata “ahli” yang dimaksud dalam hadist itu adalah orang-orang yang memiliki ilmu dan kompetensi secara mendalam di bidang-bidang tertentu.

Lewat hadist itu Baginda Nabi itu menggambarkan betapa pentingnya memahami sesuatu dengan ilmu. Selain itu hadist tersebut juga menggambarkan betapa terbatasnya kemampuan manusia, sedangkan lautan ilmu begitu luas. Alhasil berbagi peran sesuai dengan ilmu dan kapasitas masing-masing menjadi kunci yang kemudian melahirkan peradaban posisi umat manusia.

Saya melihat Golkar Institute hadir sebagai upaya untuk mencetak para “ahli” yang memiliki kedalaman pengetahuan di bidang politik dan pemerintahan. Upaya ini hadir karena Golkar menangkap saat ini dunia politik Indonesia banyak dihuni oleh orang-orang yang bukan ahlinya.

Baca Juga  Airlangga Hartarto: Golkar Terbuka Untuk Bobby Nasution

Hanya karena dorongan keinginan, ketokohan dan bahkan kekuatan finansial, siapa saja bisa terlibat dan ikut serta dalam setiap momen demokrasi. Politik hanya dimaknai semata-mata hanya urusan kontestasi.

Saat ditakdirkan menang dan berkuasa, tidak sedikit dari mereka yang tidak paham bagaimana dan untuk apa mereka berkuasa. Alhasil bisa jadi karena ketidakpahaman itulah yang kemudian membuat kondisi dunia politik di Indonesia menjadi carut marut. Dampaknya politik yang seharusnya menjadi solusi bagi kemaslahatan kesejahteraan rakyat masih sangat jauh dari kata ideal.

Sebagai partai dengan infrastruktur politik yang kuat dan stabil, Golkar paham betul jika politik tidak didasari oleh ilmu hanya akan melahirkan kekuasaan semu. Alhasil Golkar Institute hadir dengan cita-cita besar menjadi solusi bagi peradaban politik yang lebih baik di negeri ini.

Golkar Institute seolah menjadi “madrasah politik” yang mentransformasikan ilmu guna mencetak kepemimpinan politik yang transformatif, inovatif, berintegritas, memiliki etos kerja tinggi dan berdaya saing, serta berwawasan global, dalam mewujudkan good governance.

Poin inilah yang membuat saya tertarik untuk menjadi bagian dari keluarga besar Partai Golkar yang bisa turut serta menimba ilmu di Golkar Institute. Dengan harapan kelak ketika Tuhan mentakdirkan saya untuk memikul amanah kekuasaan, setidaknya saya sudah memiliki ilmu yang cukup untuk menjalaninya.

 

banner 325x300