HeadlineInternasional

Kematian Akibat Covid-19 di China Lebih dari 12.000 Orang dalam Sepekan

199
×

Kematian Akibat Covid-19 di China Lebih dari 12.000 Orang dalam Sepekan

Share this article
Suasana perkotaan china, warga di pusat perkotaan menggunakan sepeda di tengah wabah Covid-19
China mencatat angka kematian akibat covid-19 lebih dari 12.000 hanya dalam waktu sepekan. (Foto file - Anadolu Agency)

G24NEWS.TV, JAKARTA – Jumlah kematian akibat COVID-19 di China tercatat sebanyak 12.658 orang hanya dalam sepekan yaitu 13-19 Januari 2023.  Para korban ini meninggal dunia saat sedang menjalani perawatan di rumah sakit akibat mengidap COVID-19.

Laporan dari Chinese Center for Disease Control and Prevention (CCDC) menyebutkan bahwa sebanyak 681 orang dari pasien yang meninggal itu disebabkan oleh kegagalan akut sistem pernapasan. Sedangkan korban lain meninggal karena komplikasi Covid-19 dengan komorbid. 

China akhirnya kembali mengumumkan data infeksi COVID-19 setelah mendapat desakan dari berbagai pihak di dunia. China dikabarkan mengalami penyebaran infeksi COVID-19 yang tinggi setelah melonggarkan pembatasan sosialnya. Dengan pelonggaran kebijakan itu, warga China bisa bepergian ke wilayah lain bahkan ke luar negeri. 

Baca Juga  Dave Laksono Tanggapi Terbitnya Peta Standar China 2023

Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular China (CCDC) ditunjuk sebagai lembaga yang bertanggung jawab atas publikasi data kasus COVID-19, bukan Komisi Kesehatan Nasional (NHC) seperti sebelum Desember 2022.

Pada pekan kedua Januari itu, CCDC juga mencatat hampir 472.000 pasien COVID dirawat di sejumlah rumah sakit di China pada Kamis (19/1), termasuk 51.700 pasien yang mengalami tingkat keparahan yang sangat tinggi. Sampai saat ini, lebih dari 1,28 miliar warga China telah divaksin, termasuk 230,1 juta di antaranya berusia di atas 60 tahun.

Baca Juga  AS dan Jepang Sebut China adalah Tantangan Terbesar yang Belum Pernah Ada

CCDC berjanji akan mempublikasikan data dan informasi perkembangan COVID di China setiap bulan.

Komisi Kesehatan Nasional China (NHC) sebelumnya menghentikan publikasi data perkembangan COVID mulai 25 Desember 2022. 

Tindakan tersebut memicu reaksi sejumlah negara karena pada saat yang bersamaan China sedang mengalami lonjakan kasus yang menewaskan puluhan ribu orang dalam jangka waktu dua bulan, ditambah dengan dibebaskannya warga setempat bepergian ke luar negeri mulai 8 Januari 2023.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memahami reaksi sejumlah negara tersebut dan mendesak China untuk bersikap transparan dalam menyajikan data perkembangan kasus COVID.

 

banner 325x300