Politik

Karakter Capres Pilihan Gen Z dan Milenial Berubah, Jujur dan Anti-Korupsi Lebih Penting Dari Pada Merakyat dan Sederhana

205
×

Karakter Capres Pilihan Gen Z dan Milenial Berubah, Jujur dan Anti-Korupsi Lebih Penting Dari Pada Merakyat dan Sederhana

Share this article
Ilustrasi pemilih gen Z. Foto: Universitas Multimedia Nusantara
Ilustrasi pemilih gen Z. Foto: Universitas Multimedia Nusantara

G24NEWS.TV, JAKARTA – Cara pandang gen Z dan milenial memilih calon presiden (capres) di Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 2024 berubah, jika dibandingkan pesta demokrasi di tahun 2014 dan tahun 2019.

Jika sebelumnya, gen Z dan milenian mengidolakan Capres merakyat dan sederhana, saat tidak lagi.

Namun, kaum muda menilai karakter merakyat dan sederhana adalah dua faktor yang dianggap tidak lagi paling penting dalam diri pemimpin.

Sekarang, gen Z dan Milenial mengatakan akan menjatuhkan pilihan kepada Capres yang memiliki citra jujur dan anti-korupsi.

Pemilih dari gen Z dan milenial memandang Indonesia membutuhkan calon presiden (Capres) dan pemimpin yang berkarakter jujur dan anti-korupsi. Pilihan ini disampaikan oleh 34,8 persen responden yang disurvei CSIS,.

Sedangkan, karakter pemimpin dengan citra merakyat dan sederhana yang mendominasi alasan pemilihan Capres di tahun 2014 dan 2019, hanya dipilih oleh 15,9 persen responden dari gen Z dan milenial.

Capres Berpengalaman

Bahkan, citra merakyat dan sederhana masih di bawah alasan kaum muda memilih Capres. Sebanyak 16,8 persen reponden lebih memilik Capres berpengalaman, dibandingkan dari citra merakyat dan sederhana.

Baca Juga  Masa Kampanye Pemilu 2024 Lebih Singkat Daripada 2019

Survei dilakukan oleh tiga peneliti Centre for Strategic and International Studies, yaitu Arya Fernandes, Edbert Gani Suryahudaya dan Noory Okthariza.

Survei bertajuk Pemilih Muda Dalam Pemilihan Umum 2024: Dinamis, Adaptif dan Responsif merujuk data pemilih muda sebagai populasi yang berusia 17-39 tahun. Definisi tersebut mengadopsi syarat pemilih dalam UU Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum.

Pada pasal 1 ayat 34 disebutkan bahwa pemilih adalah warga negara yang telah genap berusia 17 tahun atau lebih, sudah kawin, atau sudah pernah kawin atau generasi Z.

Sedangkan, usia 39 tahun mengadopsi batas usia populasi milenial yang didefinisikan Badan Pusat Statistik dalam Sensus Penduduk 2020.

“Diasumsikan pemilih yang berusia 15-39 tahun saat Sensus dilakukan pada tahun 2020 berjumlah 54 persen. Dengan menggunakan proyeksi 4 tahun setelah Sensus dilakukan, kami memproyeksikan pemilih berusia 17-39 tahun akan berjumlah sekitar 60 persen,” tulis peneliti CSIS.

Baca Juga  Survei Lembaga Poin Indonesia: Elektabilitas Prabowo-Gibran Tembus 52,9%

Kesejahteraan Rakyat

Sementara pada aspek isu politik strategis, sebagian besar pemilih muda melihat isu ekonomi dan korupsi masih menjadi isu politik penting yang menarik minat gen Z dan milenial. Sebesar 44,4 persen responden menaruh perhatian pada aspek peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Isu ekonomi lainnya adalah terkait akses terhadap lapangan kerja. Hal tersebut menjadi penting, mengingat sebesar 15,4 persen responden mengaku tidak bekerja saat survei dilakukan.

Isu lainnya adalah terkait pemberantasan korupsi sebesar 15,9 persen, demokrasi dan kebebasan sipil (8,8 persen), kesehatan (6,2 persen) dan lingkungan hidup (2,3 persen).

“Dengan kondisi tersebut kami mendorong agar pemimpin ke depan tetap perlu memberi perhatian yang besar pada isu ekonomi, apalagi pada tahun ini dunia akan menghadapi situasi resesi global,” tulis peneliti CSIS dalam laporan hasil surveinya.

Email: Nyomanadikusuma@G24 News

Editor: Lala Lala

banner 325x300