HeadlineNasional

Golkar Beri Efek Kekuatan Politik dan Logistik ke Koalisi

269
×

Golkar Beri Efek Kekuatan Politik dan Logistik ke Koalisi

Share this article
Golkar Beri Efek Kekuatan Politik dan Logistik ke Koalisi
Golkar Beri Efek Kekuatan Politik dan Logistik ke Koalisi

G24NEWS.TV, JAKARTA –   Direktur Arus Survei Indonesia, Ali Rif’an mengamati mengungkapkan Golkar memberi efek kekuatan politik dan logistik ke koalisi.

Dia mengatakan dampak positif bisa diperoleh koalisi yang akan menjadi tempat berlabuh Partai Golkar dalam mengarungi kontestasi Pilpres 2024.

Ali menegaskan, partai politik (parpol) yang dipimpin Airlangga Hartarto itu memberikan dua keuntungan bagi koalisi.

“Akan berefek besar terhadap postur kekuatan politik dan logistik, itu menurut saya,” ujar Ali.

Dari capaian pada Pemilu 2019, kandidat doktoral Ilmu Politik Universitas Indonesia itu menilai, Golkar memiliki modal menjadi salah satu kontestan dalam Pemilu 2019.

“Golkar ini memang partai yang sangat seksi. Selain nomor dua secara kursi, Golkar juga punya distribusi kader di pos-pos strategis di Indonesia, punya teknokrat,” sambungnya.

Baca Juga  Fraksi Partai Golkar Nilai RAPBN 2024 Cukup Komprehensif

Maka dari itu, Ali menduga Golkar akan memainkan strategi dua kaki dalam Pilpres 2024. Yaitu mengusung Airlangga sebagai Capres atau Cawapres dengan bergabung pada koalisi tertentu.

“Bagaimana kalau kita baca hari ini, apakah Airlangga atu Golkar cenderung membentuk poros sendiri atau merapat ke Prabowo,” demikian Ali.

Golongan Karya (Golkar) muncul dari kolaborasi gagasan tiga tokoh, Soekarno, Soepomo, dan Ki Hadjar Dewantara. Ketiganya, mengajukan gagasan integralistik-kolektivitis sejak 1940. Saat itu, gagasan tiga tokoh ini mewujud dengan adanya Golongan Fungsional. Dari nama ini, kemudian diubah dalam bahasa Sansekerta sehingga menjadi Golongan Karya pada 1959. Hingga kini, Golongan Karya dikenal dalam dunia politik nasional sebagai Golkar.

Baca Juga  Bamsoet Pastikan Partai Golkar Segera Putuskan Koalisi di Pemilu 2024

Pada dekade 1950-an, pembentukan Golongan Karya semula diorientasikan sebagai perwakilan dari golongan-golongan di tegah masyarakat. Perwakilan ini diharapkan bisa merepresentasikan keterwakilan kolektif sebagai bentuk ‘demokrasi’ yang khas Indonesia. Wujud ‘demokrasi’ inilah yang kerap disuarakan Bung Karno, Prof Soepomo, maupun Ki Hadjar Dewantara.

Pada awal berdiri, Golkar bukan mewujud sebuah partai, melainkan perwakilan golongan melalui Golongan Karya. Ide awal Golkar yaitu sebagai sistem perwakilan (alternatif) dan dasar perwakilan lembaga-lembaga representatif. Tahun 1957 adalah masa awal berdirinya organisasi Golkar. Pada waktu itu sistem multipartai mulai berkembang di Indonesia. Golkar sebagai sebuah alternatif merupakan organisasi yang terdiri dari golongan-golongan fungsional.

Email: DharmaSastronegoro@G24.News
Editor: Lala Lala

banner 325x300