HeadlineNasional

David Reeve, Associate Professor UNSW Australia Bicara Tentang Transformasi Golkar di Golkar Institute

462
×

David Reeve, Associate Professor UNSW Australia Bicara Tentang Transformasi Golkar di Golkar Institute

Share this article
David Reeve, Rizal Mallarangeng, dan Arya Fernandes dalam Acara Dialog Publik, Golkar Institute (28/3).
David Reeve, Rizal Mallarangeng, dan Arya Fernandes dalam Acara Dialog Publik, Golkar Institute (28/3).

G24NEWS.TV, YORK – David Reeve merupakan seorang Associate Professor dari University of New South Wales (UNSW) Australia, menjadi pembicara dalam dialog publik “Golkar & Partai Tengah: Dialektika Partai Golkar dalam Transformasi Politik” di Golkar Institute, DPP Partai Golkar, Slipi, Jakarta Barat, Selasa (28/3).

Dalam acara tersebut, Arya Fernandes, Ketua Departemen Politik dan Perubahan Sosial dari CSIS, dan Rizal Mallarangeng, Wakil Ketua Dewan Pengurus Golkar Institute, turut hadir menjadi penanggap dalam dialog publik tersebut.

David menyampaikan bahwa hasil penelitiannya tentang Golkar sangat mengejutkan dirinya. Golkar yang diperkirakan akan berakhir setelah jatuhnya Presiden Soeharto, nyatanya berhasil bertahan dan menjadi kekuatan politik besar di Indonesia.

“Tahun 1998, setelah Presiden Soeharto jatuh, banyak yang mengira Golkar juga akan berakhir. Tapi disini, pandainya Partai Golkar tetap bisa bertahan. Disini ada peran penting dari pandainya perhitungan politik dari Akbar Tandjung dalam mempertahankan Partai Golkar”, kata David.

“Golkar tidak hanya berhasil untuk survive tapi, Golkar juga menjadi kekuatan besar antara kekuatan-kekuatan politik dalam pemilu. Golkar sukses menciptakan mesin politik yang tercanggih dan terbagus di Indonesia” lanjutnya.

Golongan Karya Ide Bung Karno

Berdasarkan penelitian David, Golkar tidak lahir pada tahun 1964 melainkan jauh sebelum itu, dan yang pertama kali membentuk ide tersebut adalah Bung Karno.

“Awalnya saya menerima fakta bahwa Golkar lahir tahun 1964 dan dibentuk oleh tentara. Tapi setelah meneliti lebih dalam, Golkar tidak lahir di tahun 1964 itu hanya perubahan organisasi yang diciptakan sebelumnya. Dan bukan angkatan darat yang membentuk, tapi idenya justru datang dari Bung Karno, presiden pertama Indonesia”, ujar David.

David pernah menulis buku tentang Partai Golkar yang berjudul “Golkar Sejarah yang Hilang: Akar, Pemikiran & Dinamika” dan, “Golkar: Alternatif Sistem Kepartaian” (1985). Berdasarkan penelitiannya itu, ide konsep Partai Golkar sudah ada sejak 1920-1930 -an.

“Jadi idenya lahir sudah dari tahun-tahun sebelumnya. Saya meneliti perdebatan politik yang terjadi tahun 1920 dan 1930-an, bahwa faktanya memang benar sudah ada ide-ide ini sejak tahun itu, dan konsep bahwa perwakilan harus berdasarkan golongan yang berfungsi dalam masyarakat yang kemudian disebut Golongan Karya”, lanjutnya.

Baca Juga  Muhammad Cahyadi, Pemburu Beasiswa dan Guru Besar Termuda di UNS Solo

David juga menjelaskan perubahan Golkar berdasarkan sejarahnya, dan kesuksesan ide Golkar mengubah konsep kata buruh menjadi karyawan.

“Tahun 1960-an kata Golongan Fungsionil di-Indonesiakan menjadi  Golongan Karya,  dan betul-betul memelopori pembentukan kelompok Golkar dengan KOSGORO, SOKSI, MKGR. Golongan yang sangat anti komunis, dan ingin menggantikan kata buruh menjadi konsep karyawan. Dalam usaha itu, mereka menang, konsep karyawan menjadi konsep yang sangat umum di Indonesia, sekarang”, kata David.

Adaptasi Partai Golkar

Kemudian, Arya Fernandes, memeberikan tanggapannya dan menyampaikan bahwa tidak banyak partai politik yang  bisa bertahan setelah terjadinya reformasi, tapi Golkar bisa melakukannya karena menerapkan konsep party adaptation.

“Setelah reformasi di banyak negara, bukan hanya di Indonesia. Partai politik tidak banyak yang bisa bertahan tapi, ada juga yang bisa sukses”, ujar Arya.

“Pertanyaannya kenapa ada yang bisa sukses? Jawabannya adalah adanya party adaptation baik secara  internal partai ataupun eksternal.  Golkar ada dorongan untuk melakukan reform, dan membuat skema untuk bertahan”, lanjutnya.

Arya juga menyampaikan salah satu indikator Golkar bisa bertahan sampai saat ini adalah dengan adanya Golkar Institute, yang berhasil menarik para profesional untuk tetap aktif berpartisipasi dalam politik.

“Di masa kepemimpinan Pak Airlangga sekarang, Golkar menarik kembali para profesional yang tidak terikat pada partai politik tapi bisa tetap aktif berpartisipasi dalam politik seperti yang dilakukan oleh Golkar Institute. Ini menjadi salah satu indikator Golkar bisa bertahan”, kata Arya.

Selanjutnya, indikator lain yang disebutkan oleh Arya adalah adanya demokrasi internal, performa kepemimpinan dan partai, dan ide pembangunan yang selalu tumbuh dari Partai Golkar.

Kemudian, Rizal Mallarangeng juga turut menyampaikan bahwa Golkar bukan hanya berhasil bertahan setelah masa reformasi tapi Golkar juga menjadi partai nomor satu setelah itu.

“Golkar ini unik dalam sejarah perubahan politik bukan hanya di Indonesia tapi juga di dunia. Hanya sangat sedikit partai politik yang dulunya sebagai motor otoritarian yang berhasil bertahan, kebanyakan tumbang setelah mengalami demokratisasi, dan partai tersebut tergulung karena perubahan sejarah”, kata Rizal.

“Golkar bukan hanya tidak tergulung, tapi pada tahun 2004, Golkar bisa menjadi partai nomor satu yang dipilih secara demokratis, dan sejak saat itu sampai sekarang, posisi Golkar itu kalau tidak nomor satu, menjadi nomor dua“, lanjutnya.

Pembaharuan Partai Golkar

Menurut Rizal salah satu kunci kesuksesan tersebut adalah adanya ide pembaharuan yang terus dilakukan oleh Golkar.

Baca Juga  Airlangga - Puan Bertemu, Erwin Aksa: Partai Golkar Berbicara Masa Depan 

“Kuncinya adalah ide dan orang-orang yang melakukan pembaharuan, membangun zaman baru, orang-orang yang progresif. Anak-anak muda dan aktivis yang ikut membangun zaman baru saat itu seperti Akbar Tandjung, Jusuf Kalla, dll”, ujar Rizal.

“Ada gelora baru untuk terus membangun, dengan aspirasi teknokratis, aspirasi politik yang lebih baik dan karakter demokrasi kita”, lanjutnya.

Rizal juga menyampaikan ini bukan kali pertama Golkar Institute menyelenggarakan dan mengundang pembicara ternama seperti David Reeve, sebelumnya Golkar Institute pernah mengundang Profesor Kishore Mahbubani, seorang Konsultan Geopolitik yang pernah menjabat sebagai Presiden Dewan Keamanan PBB pada tahun 2001 dan 2022.

Pada akhir acara, Ketua Dewan Pengurus Golkar Institute, TB Ace Hasan Syadzily, menyampaikan pentingnya membangun infrastruktur gagasan dan pemikiran untuk melakukan transformasi terhadap berbagai isu dengan tujuan kesejahteraan rakyat.

“Apa yang disampaikan dalam dialog publik ini, setidaknya mengingatkan kembali terhadap bagaimana seharusnya Golkar lahir. Tentu bagi generasi muda, kita tidak bisa lepas dari semangat ideologis yang dibangun oleh Golkar ketika Golkar lahir, yaitu Golkar untuk memperkuat kalangan buruh, karyawan, wanita, petani, dan lain-lain,” kata Ace.

“Satu hal, tentu kita perlu melakukan revitalisasi kembali, cara pandang kita terhadap partai politik terutama internal Golkar, untuk menghadapi tantangan saat ini. Yang perlu kita bangun bersama adalah bagaimana membuat infrastruktur gagasan, pemikiran, tawaran kerja yang konkret, termasuk melakukan transformasi terhadap berbagai isu yang ada kaitannya dengan kesejahteraan rakyat”, lanjutnya.

“Kita akan terus melanjutkan diskusi-diskusi lain nantinya, tentu apa yang dibicarakan di Golkar Institute bukan isu-isu yang sifatnya jangka pendek tapi isu-isu jangka panjang dalam rangka penguatan partai politik dan isu-isu kebangsaan”, tutup Ace.

banner 325x300