Internasional

China Perketat Pengawasan Warga Setelah Demonstrasi Tolak Lockdown

278
×

China Perketat Pengawasan Warga Setelah Demonstrasi Tolak Lockdown

Share this article
demonstrasi di china
demonstrasi-di-china

G24NEWS.TV, JAKARTA – Sejak akhir November, China ramai oleh protes di berbagai kota. Kemarahan rakyat ini salah satunya dipicu oleh kebakaran yang menewaskan 10 orang di Xinjiang.

Warga yakin pemadam kebakaran terhambat oleh tenda, palang, dan berbagai penghalang lain sehingga telat beberapa jam di lokasi kebakaran.

Kebakaran tersebut menjadi titik puncak kemarahan masyarakat kota yang telah mengalami lockdown selama 100 hari gara-gara kebijakan anti-Covid-19 pemerintah.

Protes dimulai dari Kota Urumqi di Xinjiang, hingga akhirnya protes juga berlangsung di Shanghai, Guangzhou, Beijing, dan beberapa kota lain di Tiongkok.

Demonstrasi Online

Protes secara offline tersebut juga merambat ke jalur online. Foto dan video kebakaran Xinjiang menyebar luas di internet.

Weibo yang merupakan media sosial resmi di Tiongkok menjadi saksi bisu perang hashtag terkait Xinjiang yang kemudian disensor oleh pemerintah.

Protes turun ke jalan dan di dunia maya ini menunjukkan pembangkangan terbesar terhadap pemerintah sejak kejadian Tiananmen. Hingga muncul seruan masyarakat agar Presiden Xi Jinping turun jabatan.

Untuk menyampaikan aspirasinya, masyarakat mengangkat kertas kosong yang merupakan simbol sensor di China.

Baca Juga  Korban Gempa Maroko Terus Bertambah, Hampir 2.500 Warga Meninggal Dunia

Meski terjadi protes besar, bukan berarti pemerintah akan menghentikan pengawasan. Kini pemerintah menggunakan data digital-termasuk data lokasi ponsel untuk menindak masyarakat yang ikut aksi protes.

Kontrol dan Pengawasan Pemerintah makin Ketat

Dilansir dari wawancara Josh Chin, wakil kepala biro Tiongkok Wall Street Journal, dengan VOX, protes tersebut memperlihatkan tingkat kontrol pemerintah China yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Masyarakat tahu dan sadar bahwa pemerintah mengawasi mereka dengan ketat. Namun rasa frustasi yang dipendam sekian lama akhirnya meledak, sehingga masyarakat turun ke jalan meski tahu risikonya.

Protes ini juga mengindikasikan kelemahan dalam sistem pengawasan pemerintah.  Sebab jika sistem pengawasan sudah kuat, gelombang protes ini takkan terjadi karena sudah diredam duluan. Pemerintah Tiongkok akan memanfaatkan gelombang protes ini untuk menguji sistem pengawasan untuk lalu diperbaiki kelemahannya.

Asal Mula Pengawasan Pemerintah China 

Sejarah pengawasan pemerintah TIongkok bisa dilihat puluhan tahun ke belakang, sekitar tahun 50-an. Seperti pemimpin totaliter di seluruh dunia, Mao Zedong yang berkuasa tahun 50-an juga punya mata-mata dalam negeri.

Baca Juga  Dampak Neokolonialisme, Sebabkan Kelaparan hingga Perang

Namun ide untuk mengawasi masyarakat seperti sekarang ini muncul dari ilmuwan Qian Xuesen saat membangun sistem rudal Tiongkok. Menurutnya, jika sebuah informasi digunakan dengan tepat, maka kita dapat merekayasa masyarakat seperti rudal. Ide ini menarik perhatian para pemimpin Partai Komunis Tiongkok yang kemudian mulai menerapkannya.

Jika dahulu pengawasan dilakukan secara langsung, sejak masuknya internet tahun 2000-an, pemerintah Tiongkok mulai menggunakannya untuk mengawasi masyarakat. Seiring waktu, pemerintah membangun sistem sensor internet tercanggih di dunia.

Kecerdasan Buatan

Tahun 2010 merupakan loncatan besar dalam sistem ini karena evolusi kecerdasan artifisial. Teknologi ini memudahkan mengidentifikasi orang dalam kerumunan besar hanya dalam hitungan detik.

Versi pertama dan terlengkap pengawasan ini dibangun di Xinjiang. Sistem ini digunakan untuk menganalisis orang dari suku Uyghur yang dianggap ancaman bagi Partai Komunis Tiongkok.

Ketika pandemi COVID-19 mulai melanda, pemerintah menggunakan sistem ini guna melacak pergerakan masyarakat sehingga bisa diketahui pergi ke mana atau dari siapa mereka terpapar.

 

banner 325x300