InternasionalLifestyle

Benarkah Elon Musk dan Neuralink Melakukan Kekejaman pada Hewan?

293
×

Benarkah Elon Musk dan Neuralink Melakukan Kekejaman pada Hewan?

Share this article
testing animal
testing-animal

G24NEWS.ID, JAKARTA — Setelah dipuja-puja, beberapa waktu terakhir, Elon Musk kini mulai mendapat keluhan dari banyak orang. Setelah dikritik karena caranya menangani Twitter, kini Elon Musk mendapat masalah baru, yaitu dugaan kekejaman terhadap hewan.

Semua berawal dari Neuralink

Neuralink adalah startup yang didirikan oleh Elon Musk pada 2016 dengan tujuan mengembangkan implan chip otak yang bisa  membantu orang lumpuh berjalan dan orang buta.

Tetapi untuk melakukan itu, perusahaan itu menguji teknologinya pada hewan dan membunuh sekitar 1.500 ekor hewan sejak 2018.  Baru-baru ini, karyawan perusahaan itu melaporkan bahwa penelitian tersebut tidak dijalankan dengan benar.

Laporan ini mendapat perhatian dari pemerintah, sehingga  Inspektur Jenderal Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) membuka penyelidikan atas potensi pelanggaran Undang-Undang Kesejahteraan Hewan di Neuralink. Perwakilan Partai Demokrat di Kongres menyatakan keprihatinan atas kemungkinan adanya kasus kekejaman terhadap hewan.

Masalah Neuralink bukan hal baru

Sebenarnya, sejak 2017 perlakuan Neuralink terhadap hewan sudah dipertanyakan. Neuralink melakukan eksperimen di sebuah laboratorium milik University of California Davis terhadap monyet Makaka yang mengakibatkan hewan malang itu muntah dan ada luka besar di kerongkongan sebelum akhirnya dibunuh.

Baca Juga  Ini Produk Paling Banyak Dicari Masyarakat, Bisa Jadi Ide Bisnis Online

Kejadian tragis tersebut terjadi karena ahli bedah menggunakan perekat yang tidak seharusnya untuk mengisi ruang terbuka di tengkorak hewan, yaitu tempat penanaman chip Neuralink. Langkah itu menyebabkan pendarahan otak yang membuat hewan tersebut sangat menderita.

Beberapa tahun kemudian, Neuralink memindahkan tempat penelitian ke tempat milik sendiri. Karyawan dan mantan staf mengatakan Musk menekan mereka di bawah tekanan besar aga mempercepat uji coba hewan.

Hal ini dilakukan agar Neuralink bisa mulai melakukan percobaan kepada manusia. Tekanan tersebut berpotensi mengakibatkan kegagalan percobaan, sehingga teridentifikasi empat eksperimen gagal dengan 86 babi dan dua monyet.

Tuntutan untuk cepat dalam penelitian kemungkinan besar adalah penyebab para peneliti membunuh lebih banyak hewan daripada jika dilakukan dengan lebih lambat dan konvensional.

Sejarah perlindungan hewan di Amerika

Sejak 1940, permintaan ilmuwan untuk meneliti menggunakan hewan ini sudah meningkat. Penelitian yang didanai federal ini menyebabkan banyak anjing liar diambil dari penampungan hewan untuk jadi percobaan.

Salah satu kasus terkenal adalah Pepper, anjing Dalmatian berusia 5 tahun dari Pennsylvania hilang pada musim panas 1954. Anjing malang ini ditemukan sembilan hari kemudian di RS New York City. Di sana Pepper digunakan sebagai percobaan medis dan kemudian dikremasi setelah mati.

Baca Juga  Twitter Files, Bukti Sikap Bias Twitter pada Kaum Konservatif Amerika

Hal ini menimbulkan kegemparan ketika diekspos di majalah Life. Dua tahun kemudian Kongres mengesahkan Undang-Undang Kesejahteraan Hewan.

Namun, UU ini tidak berbicara banyak mengenai batasan percobaan kepada hewan. UU ini menetapkan standar minimum untuk kondisi dasar hewan seperti makanan, air, ruang, dan penerangan.

Moral pengujian hewan

Pengujian menggunakan hewan kerap dibenarkan menggunakan semacam perhitungan moral. Perhitungannya seperti ini: “membunuh hewan sejumlah X boleh dilakukan jika mengarah pada hasil Y, misalnya membantu orang lumpuh berjalan lagi dan orang buta kembali melihat.”

Tapi pertanyaannya adalah: berapa angka untuk X? Apakah seekor, sepuluh ekor, ratusan ekor, atau ribuan ekor?

Ditambah lagi, belum tentu hasil Y tercapai penuh. Harus diakui, pengujian menggunakan hewan memang menghasilkan terobosan ilmiah. Namun dibanding keberhasilan, lebih banyak kegagalan yang sulit diketahui angka pasti karena ditutup-tutupi.

Elon Musk melalui Neuralink mungkin menganggap dirinya sebagai agen perubahan. Tapi nyawa binatang yang dikorbankannya tidak seimbang dengan hasil penelitiannya.

 

banner 325x300