Nasional

Respons Kader Golkar Usai Belanda Akui Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945

222
×

Respons Kader Golkar Usai Belanda Akui Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945

Share this article
Respons Kader Golkar Usai Belanda Akui Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945
Respons Kader Golkar Usai Belanda Akui Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945

G24NEWS.TV, JAKARTA – Anggota Komisi I DPR Fraksi Golkar Bobby Rizaldi menyambut baik Belanda yang mengakui kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.

Bobby meyakini pengakuan ini akan menjadi awal mula hubungan baik antara Indonesia dan Belanda.

“Kita sambut baik statement tersebut, sehingga nantinya ini awal hubungan yang lebih baik dengan Belanda ke depan,” ujar Bobby saat dimintai konfirmasi, Rabu (21/6/2023).

Bobby menjelaskan, Belanda sudah pernah meminta maaf kepada Indonesia pada Desember 2022. Permintaan maaf dan pengakuan kemerdekaan oleh Belanda ini menjadi bukti kewibawaan Indonesia.

“Adapun konsekuensi politis dan hukum seperti kiranya ada pengajuan hutang kolonial dan lain-lain, saya rasa akan dikaji kemudian,” tuturnya. “Bukti kewibawaan Indonesia,” sambung Bobby.

Sebelumnya diberitakan, dalam debat parlemen pada tanggal 14 Juni mengenai penelitian sejarah peran Belanda dalam periode dekolonisasi Indonesia 1945-1949, PM Rutte secara harfiah menyatakan bahwa Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 secara penuh dan tanpa syarat.

Baca Juga  Generasi Milenial Harus Percaya Diri

Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dilaksanakan pada hari Jumat, 17 Agustus 1945 tahun Masehi, atau tanggal 17 Agustus 2605 menurut tahun Jepang (kōki) (17 Agustus Shōwa 20 dalam penanggalan Jepang itu sendiri), yang dibacakan oleh Soekarno dengan didampingi oleh Mohammad Hatta di sebuah rumah di Jalan Pegangsaan Timur No. 56, Jakarta Pusat.

Chairul Basri, yang bekerja pada kantor propaganda Jepang, disuruh mencari rumah yang berhalaman luas. Rumah Pegangsaan Timur 56 milik orang Belanda ditukar dengan rumah lain di Jalan Lembang. Jadi rumah itu memang disiapkan Jepang untuk Bung Karno.

Chairul tidak menyebut nama pemilik rumah itu. Saat diambil alih pemerintah Jepang untuk Sukarno, rumah itu milik Mr. Jhr. P.R. Feith seperti disebut Kwee Kek Beng, pemimpin redaksi koran Sin Po dari 1925 sampai 1947, dalam Doea Poeloe Lima Tahon Sebagi Wartawan, 1922–1947 (1948).

Baca Juga  Ribuan Kader Golkar Siap Bertarung di Pilkada Serentak November 2024

Dari pemberitaan di koran Sin Po 5 Juli 1948 diketahui bahwa rumah tersebut merupakan rumah bersejarah bagi bangsa Indonesia karena menjadi tempat diproklamasikannya kemerdekaan. Rumah tersebut juga pernah dipakai sebagai rumah pertemuan.

Belanda juga pernah memfungsikan rumah tersebut sebagai rumah tawanan juga. Rumah itu pun berubah lagi menjadi Gedung Republik.

Hingga akhirnya pemiliknya yang orang Belanda menjualnya seharga 250 ribu gulden (ƒ). Rumah ini akhirnya dibeli oleh pemerintah Indonesia.

Email: DharmaSastronegoro@G24.News
Editor: Lala Lala

banner 325x300