Politik

Bawaslu – UNESCO Tangkal Hoaks dan Ujaran Kebencian Hadapi Pemilu 2024

200
×

Bawaslu – UNESCO Tangkal Hoaks dan Ujaran Kebencian Hadapi Pemilu 2024

Share this article
Ketua Bawaslu Rahmat Bagja (ketiga dari kiri) menyambut perwakilan UNESCO di Kantor Bawaslu, Jakarta, Rabu (21/6/2023). Foto: Bawaslu
Ketua Bawaslu Rahmat Bagja (ketiga dari kiri) menyambut perwakilan UNESCO di Kantor Bawaslu, Jakarta, Rabu (21/6/2023). Foto: Bawaslu

G24NEWS.TV, JAKARTA — Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) bekerja sama dengan UNESCO menangkal hoaks dan ujaran kebencian dalam Pemilu 2024.

Upaya ini dilakukan melalui kampanye Unesco yang berjudul Social Media 4 Peace.

Ketua Bawaslu Rahmat Bagja menyambut baik itikat yang disampaikan oleh Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO).

“Kami memiliki banyak pengalaman dalam menghadapi hoaks di media sosial,” jelasnya, saat menerima kunjungan perwakilan UNESCO, ke Kantor Bawaslu, Rabu (21/6/2023).

Dia juga menceritakan beberapa permasalahan yang dihadapi Bawaslu dalam menghadapi hoaks dan ujaran kebencian di media sosial selama Pemilu.

Pertama adalah saat 2017 ketika pemilihan gubernur untuk DKI Jakarta yang mana pada saat itu hoaks menyebar begitu masif.

Kemudian tahun 2019, Pemilu juga dihadapkan pada serangan hoaks yang menyebabkan Bawaslu juga menjadi sasaran masyarakat yang tidak puas dengan hasil Pemilu.

Baca Juga  Puji Penampilan Gibran di Debat Cawapres, Airlangga: Golkar Banget

Hoaks di Media Sosial

Bagja berharap, dengan terjalinnya kerjasama bersama UNESCO, ke depan penanganan penyebaran hoaks dan ujaran kebencian di media sosial dapat ditangani dengan lebih baik terutama dalam menghadapi Pemilu 2024.

UNESCO bersama Bawaslu dan Koalisi Damai berencana untuk melakukan deklarasi Social Media 4 Peace dalam waktu dekat.

Di tempat yang sama, Kepala Unit Komunikasi dan Informasi, Kantor Wilayah Multisektoral UNESCO, Ana Lomtadze, saat ini hingga akhir siklus pemilu, ujaran kebencian, disinformasi, dan konten menghasut yang tersebar secara online berpotensi merusak kepercayaan publik terhadap pemilu dan memfasilitasi kekerasan di dunia nyata.

Baca Juga  Golkar Ingin Prabowo Pilih Airlangga

Social Media 4 Peace, jelasnya, memiliki dua tujuan mempromosikan narasi kedamaian di media sosial.

“Untuk tujuan ini kami berkerja bersama dengan anak muda, pemimpin keagamaan,” terang Ana.

Mereka mempromosikan narasi damai di media sosial saat Pemilu.

Tujuan lain adalah mengembangkan inovasi untuk menangkal ujaran kebencian dan hoaks.

Ana mengaku, bersama dengan UGM dan beberapa NGO, UNESCO melakukan penelitian yang menjadi permasalahan media sosial di Indonesia.

Dia menyatakan permasalahan yang timbul kebanyakan berada pada sisi platform media sosial.

Platform media sosial, menurutnya, kurang transparan dalam bagaimana memoderasi konten.

Termasuk bagaimana menggunakan algoritma, dan berapa orang moderator yang mereka punya dalam menyaring konten.

Email: Nyomanadikusuma@G24 News

Editor: Lala Lala

 

banner 325x300