Nasional

Anggota Bawaslu Jabarkan Tahapan Krusial Pemilu 2024

207
×

Anggota Bawaslu Jabarkan Tahapan Krusial Pemilu 2024

Share this article

G24NEWS.TV, JAKARTA –  Anggota Bawaslu Herwyn JH Malonda menjabarkan beberapa tahapan krusial Pemilu 2024 yang perlu diawasi secara bersama.

“Pemilu 2024 yang dilaksanakan pada 14 Februari (aturannya) sama dengan Pemilu 2019. Ini tentu berpotensi terjadinya konflik. Karena itu, saya berharap Bapak/Ibu terlibat mengawasi pemilu yang akan berlanjut pilkada (pemilihan) di tahun yang sama,” katanya.

Herwyn lantas menjelaskan hal-hal krusial dalam tahapan Pemilu 2024 yang perlu diwaspadai.

“Bapak/Ibu diharapkan sudah tercatat sebagai pemilih dalam DPT (daftar pemilih tetap) yang tak lama lagi akan ditetapkan. Salah satu gugatan paling banyak di MK itu dari daftar pemilih. Karena itu, Bawaslu mengutamakan upaya pencegahan agar masyarakat mau terlibat mengecek sebagai DPT,” jelasnya.

Doktor Ilmu Lingkungan dari Universitas Brawijaya ini menuturkan, pencalonan sebagai tahapan yang berpotensi besar akan menimbulkan masalah.

Baca Juga  Partai Golkar: Sederhanakan Prosedur Penyaluran Bantuan Bencana

Pada 3 November 2023, lanjutnya, KPU bakal mengumumkan DCS (daftar calon sementara) untuk DPR tingkat pusat, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota.

Dia meminta perlu bersama-sama mengecek para calon yang mungkin belum memenuhi syarat.

“Misalnya yang tak memenuhi syarat itu belum berumur 21 tahun atau mantan terpidana yang belum melewati masa jeda lima tahun,” ungkap mantan Ketua Bawaslu Provinsi Sulawesi Utara ini.

Lalu, mengenai logistik. Herwyn mengakui, bisa saja surat suara melebihi jumlah pemilih.

Hal ini mengingat ketentuan surat suara adalah jumlah DPT ditambah 2% dari DPT di tiap TPS. Baginya, perlu memastikan surat suara digunakan sebagai mestinya.

Dia melanjutkan, tahapan penting lainnya yakni kampanye.

“Pada November 2023 calon presiden dan wakil presiden ditetapkan. Sedangkan kampanye sendiri yang dimulai 28 November sampai 10 Februari 2024 yang lebih singkat daripada pemilu sebelumnya. Masa kampanye ini biasanya paling banyak masalah, seperti penyebaran berita bohong (hoaks), kampanye hitam, politik uang, dan berbagai masalah lainnya yang perlu diwaspadai,” seru lelaki kelahiran Minahasa, 30 Januari 1972 tersebut.

Baca Juga  Bawaslu Bangun Literasi Digital Tangkal Hoaks di Medsos

Dia menegaskan, dalam undang-undang diperlukan pengawasan pemilu sehingga dibentuk Bawaslu.

Herwyn pun menguraikan, kewenangan Bawaslu yang dapat melakukan pengawasan, penanganan pelanggaran, dan penyelesaian sengketa proses pemilu.

“Secara substansi pemilih pemilu adalah rakyat. Karena itu, Bawaslu saat ini mengutamakan upaya pencegahan. Bawaslu tidak bisa melakukan pengawasan sendiri, karena itu perlu melibatkan pengawasan partisipatif dari masyarakat yang telah dibuat dalam berbagai program,” akunya.

Email: DharmaSastronegoro@G24.News
Editor: Lala Lala

banner 325x300