EkonomiHeadline

Airlangga Hartarto Buka Kemungkinan Penurunan Harga BBM Subsidi 

333
×

Airlangga Hartarto Buka Kemungkinan Penurunan Harga BBM Subsidi 

Share this article
Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto menggunakan baju kuning
Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan kemungkinan penurunan harga BBM subsidi. (Foto Kemenko Perekonomian)
BBM nabati jenis B40
BBM nabati jenis B40. (Kementerian ESDM)

G24NEWS.TV, JAKARTA – Pemerintah sedang mengkaji kemungkinan penyesuaian harga BBM subsidi di dalam negeri di tengah penurunan harga minyak mentah dunia, ujar Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Senin (30/1). 

Jika memungkinkan, harga BBM subsidi bisa turun karena biasanya kenaikan atau penurunan harga minyak mentah dunia akan mempengaruhi harga dalam negeri.   “Harga minyak kita kan masih di bawah harga subsidi, jadi tentu akan dimonitor keberlangsungan daripada penurunan harga minyak,” kata Menko Airlangga Hartarto di Kantor Presiden, Jakarta, dikutip dari Antara.  “Namun ini (penurunan harga minyak mentah dunia) terus kita akan monitor.”

Pemerintah menurut Menteri Airlangga juga telah mengimplementasikan penggunaan campuran BBM solar dengan biodiesel sebanyak 35 persen atau B35. Langkah ini adalah upaya untuk mengurangi impor solar dan juga menekan jumlah subsidi yang dikucurkan pemerintah untuk jenis BBM tersebut.

Sebelumnya mengacu pada proyeksi penyaluran Biosolar 2022 sebesar 36,4 juta kiloliter (kL), serta asumsi pertumbuhan permintaan sebesar 3%, diperkirakan penjualan Biosolar di tahun 2023 akan mencapai angka 37,5 juta kL. Sedangkan  estimasi kebutuhan Biodiesel sebesar sebesar 13,1 juta kL, atau meningkat sekitar 19% dibandingkan alokasi 2022 sebesar 11 juta kL.

 

Pemerintah juga sedang menyusun kebijakan untuk membuat biaya bahan bakar avtur menjadi lebih kompetitif. Kenaikan harga avtur telah memicu peningkatan tarif transportasi yang juga berimbas kepada kenaikan inflasi. “Ini akan dikalkulasi dan akan dirapatkan bagaimana kita bisa menurunkan biaya untuk avtur,” kata Menko Airlangga.

Baca Juga  Bambang Soesatyo: Tambah Jumlah Personil TNI, Perkuatan Pengamanan Papua 

Harga minyak turun di perdagangan Asia pada Senin sore karena produsen global kemungkinan akan mempertahankan produksi dan investor berhati-hati menjelang pertemuan Bank Sentral AS Federal Reserve (Fed) yang rentan memicu gejolak pasar.

Harga minyak mentah berjangka Brent tergelincir 74 sen atau 0,8 persen, menjadi 85,92 dolar AS per barel. Sementara itu harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate AS merosot 61 sen atau 0,8 persen menjadi 79,07 dolar AS per barel.

Menjelang pertemuan The Fed yang dijadwalkan pada 31 Januari- 1 Februari, pasar secara luas memperkirakan bank sentral AS itu akan menaikkan suku bunga setidaknya 25 basis poin. Hal itu meningkatkan kekhawatiran bahwa perpanjangan kenaikan biaya pinjaman The Fed akan menghambat pertumbuhan permintaan bahan bakar di negara konsumen minyak terbesar dunia.

“Kemungkinan terbebani oleh potensi kenaikan suku bunga dalam pertemuan Fed mendatang,” kata Kepala Analisis APAC, Serena Huang, di Vortexa, dalam sebuah surat elektronik.

Para menteri dari Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya termasuk Rusia, yang dikenal secara kolektif sebagai OPEC+, kemungkinan juga tidak akan mengubah kebijakan produksi minyak mereka saat ini ketika mereka akan bertemu secara virtual pada 1 Februari 2023.

Baca Juga  Simak, Ini Curahan Hati Pekerja Bidang Jasa Jelang Libur Natal dan Tahun Baru

Senada dengan Airlangga Hartarto, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Tutuka Ariadji mengatakan BBM subsidi masih melihat perkembangan fluktuasi harga minyak mentah dunia. 

Untuk harga keekonomian BBM Pertalite terakhir di periode Januari 2023 ini menurutnya masih di atas Rp 1.000 per liter dari harga yang dibanderol saat ini Rp 10.000 per liter, sehingga pemerintah belum menurunkan harga BBM Pertalite.

“Kita lihat terus perkembangan minyak dunia, jadi minyak dunia itu tidak turun juga, naik turun naik turun, sekarang mau naik lagi malahan, jadi coba lihat saja harga minyak dunia. Kalau harga (minyak) kemarin agak rendah itu ternyata kalau kita cek masih ada di sekitar Rp 1.000 berapa (selisihnya), dengan harga Pertalite yang saat ini jadi harga keekonomiannya masih tinggi Rp 11 ribu, jadi kita tidak mengubah harga Pertalite, ya disubsidi tadi,” paparnya saat konferensi pers, Senin (30/01/2023).

 

banner 325x300