HeadlineInternasional

Afghanistan Hadapi Kecaman Global Akibat Diskriminasi pada Perempuan 

272
×

Afghanistan Hadapi Kecaman Global Akibat Diskriminasi pada Perempuan 

Share this article
Perempuan Afghanistan
Perempuan Afghanistan. Negara ini mendapat kecaman internasional setelah menerapkan berbagai larangan pada perempuan. (Foto file - Anadolu Agencty)

G24NEWS.TV, JAKARTA  – Afghanistan jadi satu-satunya negara di dunia yang menghadapi kritik secara global karena melarang perempuan mendapatkan pendidikan dan bekerja di negara mereka.

Bulan lalu, Taliban melarang para perempuan mendapatkan pendidikan di perguruan tinggi serta bekerja di organisasi kemanusiaan lokal atau internasional dan masuk dalam kegiatan politik.

“Kami tidak boleh mengunjungi taman di mana pun, tidak boleh sekolah, masuk perguruan tinggi atau universitas. Sekarang, Taliban melarang perempuan bekerja di organisasi swasta mana pun,” ujar Shaheen Mamoonzai, seorang guru sekolah di Kabul, mengatakan kepada Anadolu Agency melalui telepon.

Kecaman global

Keputusan Taliban mendapat kecaman keras oleh PBB dan negara-negara di seluruh dunia. Setelah kembali berkuasa di Afghanistan,  Taliban telah memberlakukan beberapa pembatasan terhadap perempuan yang membuat pekerja-pekerja profesional pergi dari negara itu.

“Mencegah setengah dari populasi berkontribusi bagi masyarakat dan ekonomi akan berdampak buruk pada seluruh negeri. Ini akan membuat Afghanistan semakin terisolasi secara internasional, kesulitan ekonomi, dan penderitaan, yang berdampak pada jutaan orang di tahun-tahun mendatang,” kata PBB di Afghanistan dalam pernyataan terbarunya bulan lalu.

Larangan-larangan pada kaum perempuan ini akan menyebabkan kerugian ekonomi hingga USD1 miliar bagi negara yang dilanda perang. Sementara larangan terhadap wanita di kampus, termasuk guru dan profesor wanita, akan menambah kerugian ekonomi, menurut PBB.

Baca Juga  Selamat Tahun Baru Islam 1445 H! Menuju Keberkahan yang Berlimpah

“Tidak ada wanita yang diizinkan pergi ke rumah sakit, dan tempat pribadi atau umum mana pun tanpa ayah, saudara laki-laki, suami, atau anak laki-laki mereka menemani mereka,” kata Mamoonzai.

“Ribuan wanita seperti saya kehilangan pekerjaan,” tambah dia.

Pada Rabu, Wakil Perwakilan Khusus Sekretaris Jenderal PBB untuk Afghanistan Markus Potzel bertemu dengan Wakil Perdana Menteri Mawlawi Abdul Kabir dan menyampaikan keprihatinan PBB atas situasi perempuan di Afghanistan.

“Penolakan hak-hak perempuan Afghanistan merugikan semua warga Afghanistan. Bantuan kemanusiaan kritis terganggu. Larangan pendidikan dan pekerjaan perempuan perlu dicabut untuk menghentikan kesengsaraan ekonomi yang lebih besar dan isolasi Afghanistan,” kata Potzel, menurut Misi Bantuan PBB di Afghanistan ( UNAMA).

UNAMA menegaskan bahwa mereka akan mempertahankan semua pegawai perempuan Afghanistan mereka dan mendesak pemerintah Taliban mencabut larangan perempuan bekerja untuk lembaga bantuan.

Perempuan Afghanistan berdemonstrasi menentang pelarangan pada mereka
Perempuan Afghanistan berdemonstrasi menentang pelarangan pada mereka. (Foto file – Anadolu Agency)

Sekolah untuk Perempuan Tunanetra Ditutup

Di tengah reaksi negatif dari dunia internasional, otoritas Taliban malah menutup sekolah untuk anak perempuan tunanetra di Provinsi Kunar dan Laghman.

Baca Juga  Relawan Pro Jokowi Sulsel Dukung Prabowo & Airlangga

“Sekolah-sekolah ini didirikan dengan dukungan PBB tetapi sekarang pemerintah telah menutupnya,” kata seorang pejabat lokal di provinsi Kunar tanpa menyebut nama karena situasi keamanan.

Ada 30 gadis buta yang terdaftar di Kunar, katanya.

Ketika ditanya apakah larangan pendidikan anak perempuan baru-baru ini telah mempengaruhi anak-anaknya juga, dia menjawab: “Ya, kedua putri saya telah terpengaruh dan sekarang saya telah memindahkan mereka ke sebuah tempat sekolah agama setempat.”

‘Lingkungan yang cocok untuk wanita’

Wakil juru bicara Taliban tidak memberikan jawaban untuk persoalan ini.

Namun, penjabat Wakil Perdana Menteri Taliban Mawlawi Abdul Kabir mengatakan bahwa Islam percaya bahwa belajar agama dan pendidikan ilmiah modern adalah hak setiap orang Afghanistan, seperti dikutip dari Bakhtar News Agency yang dikelola pemerintah.

“Emirat Islam Afghanistan terlibat dalam menciptakan lingkungan yang cocok untuk pendidikan dan pekerjaan perempuan,” kata Kabir kepada Potzel.

Dia meminta masyarakat internasional untuk membantu Afghanistan menciptakan lingkungan yang cocok bagi perempuan.

banner 325x300